STICKER, REFLEKSI DI JALAN RAYA

Diposkan oleh Label: di


Sigit Meliyanto
Teknik Perminyakan,

Gambar contoh sticker yang di temple di kendaraan bermotor
Jalan raya bisa jadi sumber stress bagi sebagian pengguna jalan di berbagai wilayah. Kemacetan yang parah di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, termasuk Yogyakarta pun sudah mulai menampakan tanda-tanda kemacetan, tinggal tunggu waktu saja. Belum lagi apabila terburu-buru saat berkendara di teriknya matahari bagi pengendara sepeda motor. Jengkel mungkin iya bagi sebagian pengguna jalan. Namun dibalik itu, ada banyak hal menarik dari jalanan yang entah kita lewati setiap hari ataupun tidak. Beberapa hal apabila kita cermati, mungkin saja bisa menjadi obat stress saat berkendara dan bisa jadi memunculkan berbagai inspirasi. Tengoklah iklan-iklan di pinggir jalan yang menginspirasi dan kadang kala memicu kita untuk “nyengir”. Kalau pengendara bisa tetap berfikir relax dan positif, bisa jadi itu sumber refleksi otak bagi pengendara.
Hanya iklan? Tidak, banyak hal lain, kita ambil satu contoh yang akan menjadi poin pembahasan dalam essay sederhana ini. Tentu tidak asing lagi bagi kita dengan istilah sticker.  Stiker adalah jenis selembar kertas atau plastik, berperekat, lengket di satu sisi, dan biasanya dengan desain di sisi lain yang digunakan untuk dekorasi, tergantung pada situasi. Sticker dibuat dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna dan ditempelkan pada tempat-tempat seperti di kamar anak-anak, di atas kertas, loker, notebook, sepeda motor dan sebagainya. (http://en.wikipedia.org/wiki/Sticker)

Kaitanya di jalan raya, coba sesekali amati sepeda motor yang ditempeli sticker tambahan oleh pemiliknya yang mungkin saja lucu, aneh, bahkan mungkin belum pernah terbayang di benak kita sebelumnya. Umumnya, anak muda lah yang biasa menempelkan sticker dengan kata-kata lucu, bahkan kadang seronoh. Baik berisi kata-kata ejekan, kalimat persuasif, bahkan saya amati sekarang sedang trend dengan stiker bergambar cewek-cewek yang agak sexy ditempel di angkutan barang seperti truk, pick up dll. Maklum lah, sekarang harga printing sticker tak semahal dulu. Bagi sebagian orang, dalam hal ini pengguna jalan yang lain, itu bisa menjadi bahan refleksi otak saat berkendara, sedikit mengobati stress akibat macetnya lalu lintas. Disini, saya sekalian kasih beberapa contoh beberapa sticker yang lucu. Menurut saya, karena selera humor tiap orang kan berbeda-beda. Tapi saya yakin tetap satu jua. Iya atau iya? Gambar berikut sebagian saya jepret sendiri dengan camera tipe seadanya. Namun ada yang saya unduh dari internet juga buat tambahan biar lebih rame dan berwarna. Karena dibalik warna banyak cerita.
Di atas adalah beberapa sticker yang saya jepret sendiri di beberapa tempat. Ada yang saling ejek antar genre motor, ada yang curcol (curhat colongan), dan ada sticker bergambar cewek dicetak cukup besar dan di tempel pada bagian depan mobil pick-up. Kita ambil permisalan gambar pojok kanan bawah. Sticker ini di cetak cukup besar dan tentunya sangat jelas dilihat apabila di jalanan, baik oleh pengguna jalan yang sudah cukup umur, maupun yang belum cukup pantas menilai gambar seperti itu.
Adakah peraturan tertulis yang membatasi dan membahas tentang etika ber-sticker ria ini? Memang kekreatifitasan pembuat sticker sangat dibutuhkan dan tidak boleh dbatasi, namun konten atau isi dari sticker itu sendiri haruslah tidak ada unsur SARA, Pornografi, kebohongan, dan provokasi, Terlepas dari itu, konsumen stiker lah yang di tuntut untuk selektif dalam membeli dan tidak asal tempel, mengingat pengguna jalan tidaklah orang yang sudah dewasa saja, tapi juga banyak anak-anak dan remaja yang masih labil. Bukan hal yang mustahil mereka ikut-ikutan dan mengaplikasikannya apabila sticker itu dalam bentuk ajakan (persuasif).

1 comment:

  1. Halo Mas Sigit Meliyanto, kenapa menulisnya kok serba inferior sih? Itu ada kata-kata "essay sederhana", kemudian "camera tipe seadanya". Ayo dong, menulisnya agak bersemangat gitu loh. Salam kenal, saya Yayank, mahasiswa FE UP45, sedang menyusun skripsi tentang marketing.

    ReplyDelete
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top