Usaha adalah Jalan Menuju Sukses

Diposkan oleh Label: di
Rina Hartatik
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Benar-benar kehabisan akal untuk tema artikel kali ini. Sudah lama berfikir, tetapi tetap saja tidak ada ide yang mau ditulis. Setelah bosan berfikir tidak tahu kenapa tiba-tiba saya ingin membaca kitab Ta’lim karangan (Syeih Al-Burhan)yang diterjemahkan oleh syeih Umar Faruq, yang ada di rak buku samping tempat saya duduk waktu itu. Ketika saya buka hal, 37 saya langsung memandangi baris kedua dari atas yang berbunyi “man tholaba syaian wajadda wajada” yang artinya barang siapa yang mencari sesuatu dengan bersungguh-sungguh, maka pasti orang itu menemukan sesuatu yang ia maksud”. Pada bagian tersebut saya berfikir semua tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh. Akhirnya saya optimis malam ini saya pasti bisa menulis artikel yang temanya sudah ditentukanin oleh dosen saya, yaitu aktual.
Dalam tema kali ini saya akan membahas tentang usaha dan keinginan yang tinggi. Saya berfikir kesuksesan itu berawal dari keinginan yang tinggi dan membentuk suatu usaha yang akhirnya mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, yang akhirnya membuahkan hasil yang terbaik pula. Saya pernah mendengar cerita yang dalam hal itu diperani oleh pendeta yang bernama “Ibnu Hajar”, dulu dia pernah nyantri di suatu tempat, yang pada saat itu dia merupakan santri paling bodoh diantara teman-temannya yang juga nyantri di tempat dia nyantri. Lalu Ibnu Hajar menyadari akan kekurangan yang dia miliki itu, dia mempunyai keinginan yang tinggi untuk membuang sifat bodohnya dengan usaha belajar semaksimal mungkin, akan tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kegagalan telah membuatnya berkecil hati, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti belajar selama-lamanya. Setelah dia merasa tidak ada jalan untuk memecahkan masalahnya, dia pergi ke suatu tempat yang dalam ceritanya ke sebuah gua, ketika itu dia melihat batu keras yang bisa berlubang hanya karena ditetesi air hujan secara terus menerus, disitu dia sadar jika seseorang menginginkan satu hal seseorang itu harus mau berusaha lebih konisten lagi, tidak pernah takut terhadap kegagalan karena tidak ada kata sia-sia jika kita mau bersunguh-sungguh dan busaha. Seperti yang telah dikatakan oleh Imam Syafi’I bahwa “Kesungguhan dalam melakukan suatu hal bisa mendekatkan sesuatu yang jauh, dan kesungguhan juga bisa membuka setiap pintu-pintu yang terkunci”. Sebenarnya jika dikaji lagi, Ibnu Hajar mendapatkan petunjuk itu bukan karena kebetulan, tetapi karena keinginan dan usaha yang telah dia lakukan baru terjawab di hari itu.
Menyikapi masalah tersebut, penulis teringat dengan gagasan Izzudin Ibn Abdussalam dalam bukunya Qowa’id Al Ahkam. Beliau mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan (kepentingan), maka kita dituntut untuk menakar mana kepentingan yang lebih utama untuk dilaksanakan. Jadi jangan mudah menyimpulkan bahwa apa yang kita usahakan telah gagal dan tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi.
Back to Top