PERTEMUAN KOLOKIUM PRODI PSIKOLOGI SE-DIY


Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta



Para perwakilan Prodi Psikologi se-DIY nampaknya antusias dalamem memajukan unit kerja yang dikelolanya. Hal ini terlihat dari gencarnya pertemuan yang diadakan segera sesudah pertemuan pada akhir Maret 2017 yang lalu. Pertemuan kedua yang diadakan di Prodi Psikologi UNY ini terlaksana pada 28 April 2017. Lokasi pertemuan adalah di Ruang Sidang I Fakultas Ilmu Pendidikan UNY. Acara yang dirancang untuk pertemuan ini adalah: koordinasi untuk persiapan bagi teman-teman Pimpinan Fakultas / Prodi Psikologi se-Indonesia yang akan menghadiri Kolokium Asosiasi Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) di Manado awal Mei 2017.


Peserta yang hadir pada pertemuan di UNY tersebut cukup mewakili para pimpinan Fakultas / Prodi Psikologi se-DIY. Peserta yang tidak hadir antara lain perwakilan dari UTY, UST, USD, dan Universitas Mercubuana. Berikut peserta yang hadir antara lain adalah:
Ø  Bapak Arief dari Prodi Psikologi UII Yogyakarta
Ø  Ibu Esti Hayu dari Prodi Psikologi UGM Yogyakarta
Ø  Ibu erny Hidayati dari Prodi Psikologi UAD Yogyakarta
Ø  Ibu Nuritighfari MK dari Prodi Psikologi UIN Yogyakarta
Ø  Ibu Rita Eka dari Prodi S1 Psikologi UNY Yogyakarta
Ø  Ibu Yulia dari Prodi S2 Psikologi UNY Yogyakrta
Ø  Ibu Nita dari Prodi Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta
Ø  Ibu A. Shinta dari Prodi Psikologi UP45 Yogyakarta

Hal-hal yang didiskusikan dan cukup mendapat tanggapan serius dari para peserta yang hadir antara lain:
Ø  Learning outcome atau hasil pembelajaran harus masuk dalam silabus yang tercantum dalam SAP (Satuan Acara Pembelajaran). Untuk Prodi Psikologi UP45, hal ini sudah dilaksanakan yaitu sudah ada deskripsi mata pelajaran secara umum, silabus, kompetensi yang akan diperoleh, susunan pertemuan perkuliahan selam 14 kali tatap muka, lengkap dengan referensinya, alokasi persentasi penilaian, dan dan pengesahan. Alokasi persentase penilaian termasuk tugas-tugas yang diberikan mencakup berapa persen saja. Hal ini penting karena untuk transparansi nilai, sehingga mahasiswa dapat memperkirakan kapan akan menyelesaikan masa studinya.
Ø  Pentignnya peninjauan kurikulum 5 tahun sekali. Di Prodi Psikologi UP45, hal ini agak tersendat-sendat pelaksanaannya, karena kesibukan dari apra dosennya yang hanya 6 orang itu.
Ø  Penamaan pelajaran tidak boleh hanya memakai nomor saja. Sebagai contoh, Statistik I, Statistik II. Seharusnya penamaannya adalah Statistik dasar, Statistik multivariat, Statistik non-parametrik. Di Prodi Psikologi UP45, penamaan itu sebagian sudah dilaksanakan dengan baik, namun sebagian pelajaran belum dilaksanakan. Hal-hal yang belum dilaksanakan antara lain pada pelajaran Psikologi Umum I dan II, Psikologi Kepribadian I dan II. Usul ini akan segera diterapkan di Prodi Psikologi UP45.
Ø  Perlunya kerjasama pengembangan Prodi Psikologi se-DIY, dan kerjasama ini harus dibuktikan dengan adanya MOU. Kerjasama ini penting untuk akreditasi prodi.

Pertemuan para wakil pengelola Prodi Psikologi se-DIY ini kembali mengingatkan pentingnya pengelolaan kurikukulum yang komprehensif dan sesuai dengan perkembangan jaman. Mahasiswa harus dipersiapkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang cepat berubah ini. Hal ini memaksa dosen untuk juga menyajikan pelajaran yang menarik metodenya dan sesuai dengan perkembangan jaman. Daftar referensinya harus up to date, karena akan menjadi panduan bagi mahasiswa. Bahkan kurikulum itu harus dipampangkan di website, untuk menarik minat calon mahasiswa baru.

Pertemuan semacam ini juga penting bagi penulis untuk mencuri ilmu tentang kunci-kunci pengembangan prodi psikologi lainnya. Memang perhatian yang nyata dari pihak yayasan, rektor dan pimpinan tertinggi unit kerja / dekan ternyata sangat nyata bagi kemajuan prodi. Pimpinan yang abai, yang bisanya hanya memerintah tanpa bisa memberi suri tauladan nyata, yang kolot / sulit menerima perubahan, yang malas melaksanakan tri dharma perguruan tinggi, dan yang tidak peduli pada mahasiswa akan membawa prodinya menjadi mundur. Bentuk kepedulian untuk memajukan Prodi Psikologi UP45 adalah kesediaan untuk hadir pada pertemuan semacam ini. Sesungguhnya, pimpinan yang tidak peduli akan merasa malu, segan, dan merasa inferior bila berhadapan dengan pimpinan prodi psikologi lainnya yang sukses. Dampaknya pimpinan enggan datang dalam pertemuan ini. Memang ketidak hadiran pimpinan fakultas / prodi Psikologi se-DIY tidak selalu karena adanya perasaan inferior, namun perasaan inferior ini ikut menyumbang juga. Semoga Prodi Psikologi UP45 akan menjadi lebih maju daripada masa lampau, meskipun banyak faktor kepemimpinan yang kurang mendukung.