KOMUNIKASI YANG EFEKTIF ANTARA ORANGTUA DAN ANAK DALAM MENGHADAPI ERA KETIDAKPASTIAN TAHUN 2021

Diposkan oleh Label: di

 

MOU KERJASAMA RADIO SONORA & UP45

 

Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Komunikasi yang efektif merupakan kunci interaksi yang dapat membangun ketangguhan serta kesehatan mental sebuah keluarga. Terlebih dalam menghadapi era ketidakpastian tahun 2021. Fenomena yang sangat menarik ini diangkat sebagai tema dalam acara yang disiarkan secara langsung hasil kerjasama UP45 dengan Radio Sonora 97.4 FM Yogyakarta (29/12).

 

Realita yang terjadi yaitu tidak semua orangtua melakukan komunikasi yang efektif dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak sehingga berdampak pada semakin banyak permasalahan yang terjadi. Beban keluarga semakin terasa berat dengan adanya krisis di saat pandemi seperti sekarang ini. Banyak terjadi anak merasa tidak nyaman bicara dengan orangtua, suasana keluarga pun menjadi tidak kondusif. Suasana dalam rumah semakin terasa tidak nyaman ketika semua anggota keluarga melakukan aktivitas di rumah.

 

“Pola kebiasaan komunikasi yang baik dalam sebuah keluarga dapat menghindarkan dari kejadian anak yang menjadi berulah karena meminta perhatian pada Orang tua”, demikian dijelaskan oleh ibu Tri Novita Herdalena, S.Psi. Psikolog, salah satu narasumber dari Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kenari, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta.

 


Lebih ditekankan dengan sebuah ilustrasi oleh ibu Novita, pada dasarnya komunikasi sesuai dengan kata “kon-muni-kasih” (dalam bahasa Jawa: agar berbicara dengan kasih). Orangtua hendaknya perlu memahami perasaan anak. Pola komunikasi dalam mendampingi perkembangan anak lebih pada memberi alternatif tentang apa yang perlu dilakukan, memberi kebebasan pada anak untuk belajar mencari solusi terhadap sebuah permasalahan. Hal ini untuk mendukung perkembangan emosi serta intelektual bagi anak.

 

Komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak hendaknya semakin dikembangkan dalam menghadapi era ketidakpastian tahun 2021. “Komunikasi efektif berarti tidak menambah, tidak mengurangi, posisi Orangtua yang sejajar dengan anak, serta menggunakan kalimat yang  sederhana”, demikian diungkapkan oleh Yudha Andri Riyanto, S.Psi., Alumni Psikologi UP45, dari Resource Development Yayasan Tunas Sekar Lintang, DIY.

 

Berikut merupakan rangkuman dari ragam pertanyaan pendengar radio saat acara berlangsung dan tanggapan dari penulis dan narasumber lainnya.

 

1)    Ibu Yani di Bantul. Saya melihat pada sebuah keluarga, bahasa yang digunakan terlalu dewasa dan tidak sesuai dengan umur anak. Pada lain keluarga, meskipun menggunakan cara bahasa yang sama, terasa baik-baik saja. Bagaimana berkomunikasi yang tepat agar sesuai dengan usia anak?

Jawaban: Setiap keluarga tentu memiliki pola kebiasaan komunikasi yang berbeda. Orangtua lah yang diharapkan mampu menyesuaikan pola komunikasi agar tujuan komunikasi dapat sesuai dengan yang diharapkan oleh semua anggota keluarga.

 

2)    Mas Ahmad Prasetyo, di Mantrijeron. Apa yang bisa dilakukan anak ketika dalam keluarga memang tidak ada komunikasi yang baik antar anggota keluarga?

Jawaban: Anak dapat berinisiatif mengungkapkan kepada ayah atau ibu tentang harapannya agar suasana keluarga lebih harmonis. Alternatif lain, bisa dengan meminta bantuan guru atau keluarga lain untuk menyampaikan harapannya tersebut kepada orangtua mereka.

 

3)    Bunda Pipimarwah di Sleman. Bagaimana cara mendampingi anak dalam kegiatan belajar melalui daring agar tidak merasa bosan karena ide Orangtua sangat terbatas dan harus mampu mengontrol emosi ?

Jawaban: Orangtua diharapkan lebih dahulu untuk mampu menyadari bahwa dirinya sebagai motivator bahkan menjadi inspirasi bagi anak. Kesadaran tersebut akan mengarahkan orangtua menjadi lebih kreatif dalam mendampingi anak dan lebih mampu dalam mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan anak.

 

4)    Ibu Jasmin, di Sleman. Bagaimana menciptakan komunikasi efektif ketika pola sebelumnya sudah jauh dari proses itu, adakah tips untuk pembenahan nya?

Jawaban: Alternatif yang dapat dilakukan, antara lain diawali dengan membuat kesepakatan antar anggota keluarga untuk bersama-sama membenahi pola komunikasi dalam keluarga. Setiap anggota keluarga diharapkan memahami bahwa komunikasi merupakan suatu proses untuk mencapai saling pengertian, bertukar pemikiran, opini, serta informasi secara dua arah. Adapun kemampuan yang perlu dikembangkan yaitu keterampilan mendengar, juga dapat melihat dari sudut pandang lawan bicara, membangun kepercayaan, selalu peduli (simpatik), dapat memahami (empati), serta jujur dan terbuka antar anggota keluarga.

 

5)    Bapak Toro, di AM. Sangaji. Usia berapa sebaiknya anak diajarkan berkomunikasi yang tepat?

Jawaban: Sedini mungkin, membimbing anak agar dapat berkomunikasi secara efektif. Keterampilan berkomunikasi merupakan sebuah proses yang akan terus berkembang dalam diri anak sesuai dengan tahapan perkembangannya.

 

6)    Bunda Rizki, di Jogja. Anak saya usia 10 tahun. Bagaimana cara Orangtua menubuhkembangkan komunikasi yang efektif agar anak merasa nyaman dan tidak merasa bosan?

Jawaban: Alternatif cara yang perlu dilakukan misal sering mengajak dialog anak dengan  penuh perhatian, kelola emosi agar tidak selalu mengkritisi, tidak selalu cermah, tidak selalu memberi nasehat, serta menghindari dominasi emosi negatif saat berkomunikasi.

 

7)    Mas Duha, di Jogja. Seperti apakah komunikasi yang paling efektif dalam keluarga?

Jawaban: Komunikasi yang efektif dalam keluarga tampak dari adanya kepedulian, dapat memahami, serta jujur dan terbuka antar anggota keluarga. Indikator komunikasi yang efektif antara lain terjadi secara dua arah, dan menghasilkan saling pengertian.

 

8)    Mba Ratri, di Wonosari. Bagaimana cara agar dapat terbiasa curhat (mencurahkan isi hati) kepada Orangtua, karena saat ini anak lebih banyak curhat di medsos (media sosial) ?

Jawaban: Bagi anak diharapkan mengembangkan sikap jujur pada Orangtua. Bagi Orangtua diharapkan mampu menjadi pendengar yang baik untuk anaknya.

 

9)    Ibu Neni, di Sleman. Dulu ayah dan ibu saya sering bertengkar, dengan menggunakan bahasa Belanda. Demikian bila anak-anak nya bertengkar harus menggunakan bahasa Belanda. Jika ketahuan menggunkan bahasa Jawa maka akan dihukum.  Maka saya kursus bahasa Belanda bahkan hingga berprestasi dalam kemampuan bahasa Belanda. Apakah pola pendidikan bagi anak dengan hukuman tersebut baik?

Jawaban: Pola hukuman secara kaku bila diterapkan dalam pendampingan tumbuh kembang anak cenderung akan memberikan tekanan secara psikologis bagi anak. Tekanan tersebut tentu beresiko menghambat perkembangan aspek-aspek lain dalam diri anak yang sedang berkembang. Harapannya Orangtua lebih bijaksana dalam mendidik anak, memberikan kebebasan bagi anak untuk mengembangkan segenap potensi diri sesuai dengan minat dan tahap perkembangannya.

 

10) Ibu Halimah, di TK Ahmad Dahlan. Bagaimana mengajarkan anak berkomunikasi yang baik?

Jawaban: Antara lain dengan mengajarkan dasar-dasar keterampilan komunikasi yaitu melatih menyusun kalimat dengan beragam kosakata, berani mengemukakan pendapat, mampu menjadi pendengar yang baik, mengembangkan kemampuan simpatik, dan empati.

 

11) Ibu Hasanah, di Kotagede. Bagaimana menghadapi situasi ketika anak mengalami kejenuhan di rumah sedangkan emosi Orangtua juga sedang memuncak sehingga anak menjadi sering menghindari pertemuan dengan Orangtua ?

Jawaban: Orangtua hendaknya menyelesaikan permasalahan yang ada dalam dirinya terlebih dahulu. Ketika berkomunikasi dengan anak tetap mampu mengendalikan emosi sehingga dapat lebih memahami perasaan yang sedang dirasakan oleh anak.

 

12) Bapak Deni, di Bandung. Adakah tips agar anak bisa lebih terbuka kepada Orangtua seperti ketika anak bersama dengan teman-temannya?

Jawaban: Hendaknya Orangtua mampu berperan sebagai seorang sahabat yang baik bagi anak. Belajar memahami pola pikir anak sesuai tahapan perkembangannya. Lebih memberi kebebasan bagi anak untuk mengemukakan pendapat dan mencari serta mendapatkan solusi terhadap suatu masalah yang sedang di hadapi. Bangun kepercayaan anak terhadap orangtua.

 

13) Ibu Rahma, di Jogja. Bagaimana menghadapi anak yang sulit berkomunikasi, dan cederung menyendiri?

Jawaban: Tumbuhkan rasa nyaman, aman pada anak dengan memberikan penghargaan, kepercayaan. Berikan stimulus agar anak mau memberi pendapat serta ajak berdialog, berdiskusi tentang berbagai hal yang dijumpai dalam keseharian.

 

Pendengar yang telah mengirim pertanyaan menarik dan beruntung mendapat hadiah berupa pulsa cellular yaitu pemilik nomor 085…89 dan 082…13. Terima kasih kepada seluruh Sahabat Sonora 97.4 FM Yogyakarta. Selamat menyambut tahun 2021.

 

 

Widiantoro, FW (29 Desember 2020).

 

Post a comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top