LATIHAN BERPIKIR KRITIS DENGAN CARA MENCARI KEJANGGALAN
Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Ada sebuah video berjudul: Perjalanan seorang pria: Dari kesedihan menjadi rumah impian. Video itu mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga sepasang suami istri. Mereka baru menikah dan masih tinggal dengan orangtua pihak istri. Setelah tiga menikah, ternyata istri belum juga hamil. Pihak mertua menyalahkan suami, yang dianggap tidak subur. Oleh karena selalu disalah-salahkan, laki-laki (suami) menjadi sedih dan tidak lagi senang tinggal di rumah tersebut. Istrinya juga tidak memperlakukannya dengan baik. Ia kemudian keluar dari rumah mertua dan pergi ke sebuah hutan. Ia kemudian bersusah payah membangun sebuah rumah cantik. Itu adalah rumah impiannya.
Video tersebut mengisahkan hal-hal klasik, yakni tentang pertengkaran dalam keluarga, konflik suami istri, mengatasi konflik dengan cara pergi dari rumah (Jw. purik). Selanjutnya, video itu ingin memperlihatkan betapa rumah yang dibangun oleh laki-laki tersebut ternyata sangat cantik. Tujuan pembuatan video adalah agar penonton mengagumi kecantikan rumah yang dibuatnya, kemudian memberi like sehingga videonya menjadi laris. Hal tersebut tidak ada yang keliru. Persoalannya, ada hal-hal yang janggal. Kejanggalan tersebut akan menuntun penonton untuk berpikir sederhana, tidak kritis, dan menerima apa saja yang ada di depannya. Ini adalah seperti fenomena ‘pembodohan’ secara massal.
Untuk ‘mendidik’ penonton, maka ada beberapa kejanggalan yang perlu dikemukakan.
1. (1) Pemeran utama adalah seorang laki-laki berambut hitam, berkulit kuning. Kemungkinannya laki-laki tersebut adalah orang Timur (Asia Tenggara, Asia Timur, sebagian Asia Tengah). Orang-orang Timur itu mempunyai budaya patriakat yang kuat. Artinya pihak laki-laki yang memegang kendali rumah tangga. Hanya beberapa budaya saja yang matriakat (suami ikut keluarga istri) yakni budaya Minangkabau dan Bali. Bila melihat secara keseluruhan video, tidak mungkin laki-laki itu berasal dari dua budaya matriakat tersebut. Jadi narasi video bahwa ia harus tinggal di rumah keluarga istri terasa janggal.
( (2) Suami istri itu sudah menikah selama 3 tahun, namun belum juga mempunyai keturunan. Uniknya, pihak yang disalahkan adalah laki-laki. Ini sangat tidak sesuai dengan budaya patriakat, yang mana pihak perempuan selalu disalah-salahkan mengenai urusan fertilitas ini. Jadi narasi video ini janggal.
3L(3) Laki-laki yang sedih itu pergi ke hutan dan membangun sebuah rumah. Ini sama sekali tidak logis, karena meskipun di hutan maka tetap ada peraturan-peraturan pertanahan untuk membangun sebuah rumah. Jadi narasi video ini membodohi penonton.
4. (4) Gaya rumah yang dibangun oleh laki-laki tersebut bukan bergaya Asia, namun lebih bergaya Eropa. Indikatornya adalah adanya cerobong asap, dapurnya cantik yang mana orang yang memasak harus berdiri (budaya Asia, memasak lebih banyak dilakukan dengan jongkok atau duduk pada sebuah kursi pendek yang disesuaikan dengan tingginya tungku). Jadi pembuat video keliru dalam memilih gaya rumah yang dibangun.
Sebetulnya, bila ada permasalahan fertilitas, maka ada solusi lain misalnya adopsi anak, mengangkat anak saudara, atau bayi tabung. Tidak perlu pihak suami ‘melarikan diri’ ke hutan. Semua persoalan bisa dicari solusinya.
Sumber video:
Judul: Perjalanan seorang pria: Dari kesedihan menjadi rumah impian.
Link adalah = https://www.youtube.com/shorts/nPVv4hu7Lrk


0 Comments
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji