Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

SAATNYA INDONESIA BERBURU SHALE OIL



Rauf Wanda A.N.R
Teknik Perminyakan

Foto : Istimewa
Dapat kita lihat saat ini, untuk pemenuhan kebutuhan akan energi berbanding terbalik dengan produksi yang dilakukan. Tingkat konsumsi meningkat, akan tetapi angka produksi tak kunjung mengalami penambahan. Langkah cepat harus segera diambil untuk mengimbangi hal tersebut. Tentunya dengan menemukan cadangan baru, dan dapat memproduksikannya secara ekonomis. Energi non konvensional sekarang mulai jadi pilihan. Setelah melirik dan mencoba eksplorasi shale gas dan Coal Bed Methane (CBM), pemerintah Indonesia mulai mengembangkan wacana untuk terjun menggarap Shale Oil.
Sebelumnya akan dibahas mengenai apakah shale Oil tersebut? Shale Oil adalah batuan sedimen yang mengandung mineral organik. Dengan teknologi saat ini, serpihan minyak dan gas akan diekstrak setelah air, pasir serta zat kimia dipompakan ke bawah tanah dengan tekanan tinggi agar batuan pada formasi dapat terpecah. Proses ini sebelumnya sudah dibahas mengenai pekerjaan Hydraulic Fracturing atau Hyfrac, juga terkenal dengan sebutan Fracking. Shale Oil umumnya terletak  sekitar 7.000-14.000 feet di bawah permukaan tanah. Shale Oil sendiri memiliki kelebihan, yaitu lebih bersih dibandingkan dengan batu bara. Saat ini, yang sudah menjadi tolak ukur untuk pengembangan proyek Shale Oil adalah Amerika Serikat.
Di Amerika, sudah berhasil terlebih dahulu untuk memproduksikan gas non konvensional jenis shale gas dalam jumlah yang lumayan besar. Amerika juga sudah berhasil untuk memproduksikan Shale Oil hingga 700.000 barel per hari di North Dakota dengan teknologi Hydraulic Fracturing. Yang menjadikan salah satu perubahan peran AS di pasar migas global, karena negara adidaya tersebut sudah mampu untuk mengekstrasi Shale Oil.

Menurut keterangan dari majalah Global Energi (2013) bahwa secara geologi, endapan bitumen banyak terakumulasi di pulau bagian barat Indonesia, yaitu pulau Sumatera. Tepatnya berada di Sumatera Tengah, daerah Padanglawas, Kecamatan Sitiung dan Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Melihat adanya potensi tersebut, Indonesia berharap dapat mengikuti jejak AS untuk segera dapat memproduksikan Shale Oil. Seperti halnya gas non konvensional lainnya yaitu Coal Bed Methane (CBM).
Namun seiring dengan berkembangnya non konvensional energi,  juga muncul berbagai hambatan. Persoalan teknologi, dana dan dari kondisi geografis di negara Indonesia menjadi kendala dalam proyek pengembangan Shale Oil untuk meggantikan peran energi konvensional. Kedepannya, sudah saatnya  untuk segera lebih lanjut mengembangkan dan mengerjakan potensi sumber daya non konvensional energi seperti Shale Gas, Coal Bed Methane (CBM), dan Shale Oil. Ini dilakukan sebagai langkah yang tanggap akan cadangan migas di Indonesia yang kian lama semakin menipis. 





Daftar Pustka :
Kusdyanto, Agung Dkk. 2013. Ikuti Jejak AS, RI Incar Shale Oil. PT. Prima nadia Gravia Surabaya : Global Energi. Edisi 19, 10 Juni-10 Juli 2013, hal.68-71.



Post a Comment

0 Comments