Cinta yang Usang

Diposkan oleh Label: di


Nunuk Priyati
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

           
Istimewa
Musim hujan di Jogjakarta bagai musim es untukku. Suhu dingin yang menyiksa batin. Entah sejak kapan aku menderita penyakit itu. Aku merasakan tubuhku mulai tak karuan. Begitu gatal, panas, dan menyesakkan. Aku tahu, bentol–bentol yang terbentuk bagai digigit ulat mulai tumbuh disebagian kulitku. Asisten apoteker bilang, aku terjangkit alergi dingin. Dulu aku selalu mengonsumsi obat anti alergi hingga beberapa minggu yang lalu. Dan hari ini aku mulai merasa muak dengan kebiasaan itu.
            Kota ini memanglah selalu rame, bahkan meski rintik hujan mulai membesar. Angkringan – angkringan di pinggir jalan mulai sesak oleh pria dan perempuan. Sudah pasti mereka berpasangan. Aku semakin erat memegang pinggang pria didepanku, meniru gaya sepasang kekasih yang juga berboncengan di samping kanan – kiriku. Motorku melesat lebih cepat, aku tahu jalan yang aku lewati mengarah ke Malioboro.
            Kami memasuki warung kecil bertulisan cv didepannya. Tempat yang nyaman untuk kencan. Begitu sepi dengan nuansa yang romantis. Aku tak melihat pengunjung yang lain. Berarti hanya ada kita berdua, aku dan dia. Dia memesan sesuatu, lantas duduk didepanku. Malam ini ia begitu wangi, bahkan jaket yang ia kenakan untukku dijalan tadi.
            “Kau mau makan apa?,“ Ia menawariku. Tawaran yang terdengar aneh, bukankah ia telah memesan sesuatu. Ia menyodorkan sebuah buku menu padaku. Aku hanya terdiam sesaat, kembali menyodorkan buku menu padanya. Tatapan mata kita bertemu, nadiku berdenyut lebih merdu. Aku tersenyum.
            “Aku sudah makan, kau saja yang pesan,” aku menelan ludah. Banyak hal yang ada di otakku malam ini. Tentangaku dan dia, tentang hubungan kita.
            Dua menit berlalu, dia hanya memandangiku. Aku tak lagi merasa risih dengan itu. Semejak ia membacakan sebait puisi untukku dan menutupnya dengan ciuman manis di punggung tanganku. Lantas, setiap kita bertemu dia mengusap kepalaku lembut, entah dengan cinta atau nafsu. Tak jarang, ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku dari belakang. Seakan spontan dan aku malas untuk melarang. Dengan itu, aku menjadi biasa, terbiasa dengan sentuhan pria, apalagi sekadar tatapannya.

            Seorang pelayan datang dengan cekatan, meletakkan pesanan di atas meja. Malam ini menjadi sejarah baru untukku. Aku bersulang secangkir kopi dengannya, minuman nikmat yang hanya kurasakan satu tenggak. Lagi–lagi dengan alasan kafein itu. Ini pertama aku jalan malam hari dengannya dan kuharap ia akan mengatakannya malam ini juga.
            Ia duduk disampingku kini, menghabiskan sisa secangkir kopi milikku. Menghabiskan ampasnnya pula seketika itu. Sebatang rokok ia keluarkan dari sakunya, asapnya mengepul begitu saja mengenai wajahku. Aku tak dapat menahan batukku, itu bawaan sejak dulu. Disetiap kali aku menghirup asap rokok sialan itu.
            “Kau masih saja menyebalkan. Aku tak tahu apa yang bisa membuatmu lupa dengan batangan rokok dan cangkir–cangkir kopi itu. Mungkin saja wanita, wanita yang akan membuatmu lupa dengan mereka. Kau tahu, seminggu setelah kita tak bertemu, malam ini kau terlihat semakin tua saja.  Kau sudah seharusnya dan sepantasnya  menjadi bapak anak–anak,“ aku sedang berusaha membuka pembicaraan tentang hubungan kita. Aku sudah muak bertahun – tahun menjadi objek dalam ceritanya. Aku benar ingin dimilikinya, seutuhnya. Tak hanya dalam ceritanya, yang bagiku tetaplah saja fiksi dan maya untuk kita
          “Setua apapun, aku tetap tampan. Wajahku menyenangkan. Dan kau terpesona bukan?“ tatapannya amat indah. Aku hanya membalasnya dengan senyum. Senyum yang entah tersimpul seperti apa malam itu. Aku tahu ia takkan mengatakannya, itu yang akan menjadikannya bujang tua. Dan aku, tak mau jadi perawan tua.
          “Bulan depan umurku menginjak tiga puluh,“ aku menghela napas kala mengatakan itu.
         “Oh, ya. Aku takkan lupa, aku punya hadiah istimewa untukmu“. Entalah, Kado macam apa lagi yang akan ia hadiahkan untukku. Apa itu puisi cinta? puisi yang akan usang ditelan waktu. Seusang cinta ini nanti, jika ia masih begini.
Tiga tahun yang lalu, tepat saat umurku hampir dua puluh tujuh, aku tergila – gila dengan karya sastra. Aku tergila – gila padanya. Aku suka puisi – puisinya, jatuh cinta pada cerita – cerita pendeknya. Semua membuat dia begitu nampak sempurna. Dan aku tahu, aku tak hanya kagum padanya, tapi juga jatuh cinta. Kisah yang amat romantis biasa ia cipta. Itu dalam tulisannya, tak di dunia nyata. Apalagi untuk itu, bahkan mengungkapkan cintapun ia tak mampu. Dan malam ini, aku merasa karya sastra menjadi petaka. Karya sastra menjadikan ia berbeda, tak seperti pria pada umumnya.
Tiga jam waktu telah berlalu, dia belum juga mengatakannya. Atau boleh jadi ia tak pernah berniat untuk itu, bahkan mungkin ia tak memiliki rasa itu. Sekarang kita tak lagi di cv itu, kita telah sampai di depan kosku. Dia mencium tangan kananku. Ciuman menawan, ciuman terakhir yang ia berikan. Malam ini aku telah memutuskan. Keputusan yang kukira terbaik untukku dan entah untuk dia. Yang jelas aku tak mau jadi perawan tua.
***
Musim hujan di jogja bagai musim es untukku. Suhu dingin yang menyiksa batin. Entah kapan penyakit itu akan berakhir. Bahkan suamiku seorang dokter kulitpun belum dapat mengatasi. Benar kata asisten apoteker temanku dulu, alergi sulit disembuhkan. Bahkan obat –obat itu, semakin hari semakin tak mempan. Aku merasa tubuhku mulai tak karuan, begitu panas, gatal dan menyesakkan.
          Malam ini pertama kali aku bersulang secangkir kopi dengan suamiku di cv itu. Bukan dengan dia, tapi pria yang lebih jantan darinya. Sedang dia tak datang dihari pernikahanku, pernikahan yang berlangsung satu minggu sebelum hari ulang tahunku. Aku tak tahu, mengapa ia melakukan itu. Bahkan yang aku tahu, ia belum pula meminang seorang wanita, padahal umurnya sudah menginjak tiga puluh lima. Aku juga tak pernah tahu, jika sejatinya ia akan melamar dihari ulang tahunku. Tak juga tahu, jika aku masih menjadi objek cerita cinta dalam novelnya yang mengharu biru. Cinta yang usang itu.


Jogjakarta, 16 Januari 2014 : 05. 01
NB : Cerpen ini telah diposting dif ace book penulis (Nunuk Priyati)
Post a Comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top