Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Maafkan Bunda, Nak


Oleh : Nunuk Priyati
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Kategori : Cerita Mini
Aku selalu menemukanmu dalam keadaan gembira. Matamu yang selalu berbinar – binar tiap kali kita jumpa. Bibirmu tersimpul membentuk senyum. Kamu yang senang bercerita tentang banyak hal, tak peduli meski terkadang aku lebih sering tak paham. Kamu satu alasan aku bernapas lebih panjang. Mimpi masa tuaku kamu bawa melambung terbang. Kamu yang kini menjadi satu – satunya harapan. Kamu yang sengaja tak sengaja telah kujadikan tabungan pensiunan. Sebab aku hanyalah buruh petani dengan honor sekadar cukup tiga kali makan.
            Sekarang kamu duduk disampingku, membiarkan aku mengusap dahi. Kini, wajahmu tak semenyenangkan tadi. Kamu sedang kecewa, aku masih belum berubah. Kemiskinan masih melanda kita. Tak hanya kamu, adekmu juga mengalami nasib yang sama. Kalian disekolahkan, bukan olehku. Tapi dia, yang hoby membagi harta pada para duafa.
“ Apa kau tak pernah ingin menyekolahkan anak – anakmu, mengapa si bungsu juga kau titipkan di panti asuhan dulu aku pernah tinggal ? “. Matamu menatapku tajam. Pertanyaanmu lebih pantas disebut sebagai hujatan. Kamu lama terdiam, menunggu beberapa kata yang mungkin akan keluar dari bibirku yang terkatup.
           
“ Orang tua mana yang tak ingin memenuhi kebutuhan anaknya. Tapi keadaan, kenyataan dan takdir telah membuat aku tak kuasa melakukan yang terbaik untuk kalian”, kata – kataku mengambang. Mungkin tak jelas untuk kau dengar. Aku malu padamu, kamu yang tak pernah patah semangat untuk dikatakan mampu.
            Aku tahu, tak ada kamus dalam hidupmu kata “ tak bisa “. Yang kamu tahu, pasti ada jalan jika niat dan usaha. Bagimu, aku hanyalah ibu yang tak berfungsi sepenuhnya. Memiliki ibu seorang wanita sepertiku bagai tertimpa sebuah mala petaka. Aku yang masih tenggelam dalam masa laluku. Tentang dia, pria yang telah meninggalkan kita.
                                                                                    ***
            Hari ini aku benar – benar muak denganmu. Kau terlalu egois.  Kau tak pernah mempedulikan perasaanku. Kau memang tak pernah bisa paham, apa yang telah aku lakukan untuk merubah keadaan. Aku relakan masa remajaku, harga diriku sampai – sampai aku pantas dikatakan tak tahu malu.  Kesana – kemari banting tulang untuk mempertahankan sekolahku. Dan semua itu untuk kita, agar aku bisa memberimu kehidupan yang pantas disebut layak dimasa tua. Agar sibungsu bisa sekolah dimanapun ia mau, jenjang setinggi apapun dia ingin.
            Kisah cinta. Ah, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin kamu sakit berkepanjangan karena dia. Dia yang entah ada dimana, yang bisa jadi sudah mati. Dia yang lebih memilih wanita itu dibanding kita bertiga, (kau, aku dan sibungsu). Harusnya kamu sadar, sakitmu itu pembawa sial. Sakitmu yang membuatmu lupa makan. Tak hanya itu, kau juga lupa aku dan sibungsu. Kau tak pernah lagi memikirkan kita, bahkan sekadar untuk menanyakan kabar.
                        Kau tak pernah tahu, bagaimana aku tak pernah menjalin cinta sebagaimana remaja lainnya. Diam – diam aku sedikit membenci seluruh pria. Semua itu karena dia, laki – laki yang membuat kita terpecah belah. Tapi tidak jika aku memutuskan untuk sendiri. Aku hanya sedang memantapkan hati, siapa yang benar dan layak aku cintai. Seorang yang rela menghabiskan napasnya untukku dan disampingku.
                                                                        ***
            Bagaimanapun keadaanmu, kamu tetap berusaha gembira didepanku. Meskipun matamu tak lagi berbinar – binar. Senyummu tak lagi bisa menyembunyikan bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya. Aku tahu, kamu tak bahagia. Aku, seorang ibu yang telah gagal menyayangi anak – anaknya. Dan malam ini aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Yang dengan itu, mungkin Tuhan akan menghapus dosaku. Dan mungkin juga, kamu akan memahamiku.
            “ Maafkan bunda, nak “. Ingin sekali aku membisikan itu ditelingamu. Tapi, aku tak sampai hati mengganggumu yang kini tertidur lelap. Aku janji,  esok sebelum kamu pergi akan aku bisikan itu ditelingamu. Aku akan mencium keningmu, semasih kita belum dipisahkan oleh jarak kota yang senantiasa kau tuju. Kota dimana kau selalu gigih untuk merubah keadaan kita. Dimana kau melambungkan mimpi masa tuaku terbang. Dan aku selalu percaya, esok lusa ada masanya kita akan bersama. Kita akan jadi satu keluarga utuh yang bahagia, (aku, kamu dan sibungsu). Ya, aku yakin Tuhan telah mengatur waktunya. Kapan dan dimana tempatnya. Jika takkan pernah terjadi di dunia, maka kita harus sedikit bersabar. Bisa jadi, surga satu – satunya tempat yang membahagiakan untuk kita.

Nb : Tulisan ini sudah saya posting di facebook (Nunuk Priyati)





Post a Comment

2 Comments

  1. Mbak Nunuk, jujur saya bingung membaca cerpen itu. Itu percakapan antara ibu dan anak kan? Mengapa anak memanggil ibunya dengan 'kau'? Itu ada pada kalimat "Apa kau tak pernah ingin menyekolahkan anak – anakmu, mengapa si bungsu juga kau bla bla bla". Secara keseluruhan sih oke, meskipun ada beberapa salah tulis seperti 'ditelingamu" harusnya 'di telingamu'. Ok, selamat ya, terus berkarya. Oh ya, saya Polar Bear, alias Pak Bei, tinggal di Wonosobo.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih atas masukannya pak bei. Jujur saja saya baru belajar menulis dan masih buta ilmu EYD. Salam kenal dari jogjakarta.

    ReplyDelete

Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji