UPAYA PENINGKATAN MUTU KURIKULUM & MANAJEMEN

Diposkan oleh Label: di


KIPRAH PRODI PSIKOLOGI UP45 DALAM MEMPERBAIKI
MUTU PROSES BELAJAR MENGAJAR

Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


AP2TPI (Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia) akan mengadakan kolokium pada 4 sampai dengan 6 Mei 2017 di Manado, Sulawesi Utara. Kolokium adalah pertemuan para ahli untuk membahas suatu masalah. Kolokium psikologi tentu saja dihadiri oleh para pakar dalam bidang psikologi. Hal-hal yang dibicarakan antara lain pendidikan psikologi di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Tema-tema yang berhubungan dengan pendidikan psikologi antara lain kurikulum, kompetensi lulusan sarjana psikologi, penyiapan karir bagi sarjana psikologi, dan sebagainya. Oleh karena persepsi para penyelenggara pendidikan tinggi psikologi sering berbeda-beda sehingga hasil akhirnya, yaitu sarjana psikologi, mempunyai kualitas kompetensi kurang dalam menghadapi persaingan yang ketat ini. Untuk mengatasi perbedaan persepsi ini maka perlu diadakan kolokium.


Sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan hasil maksimal pada saat kolokium tersebut, maka 12 Fakultas / Prodi Psikologi di Yogyakarta telah bersepakat untuk mengadakan pertemuan pendahuluan. Pertemuan tersebut dilaksanakan pada 31 Maret 2017, pukul 13.00-15.99 di Ruang Audiovisual, Lantai 2, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII, Kampus Terpadu, Jl. Kaliurang Km. 14,5 Yogyakarta.

Adapun pertemuan pendahuluan tersebut dipimpin oleh Dr.rer.nat. Arief Fahmi, MA., HRM., Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), UII Yogyakarta. Peserta yang diundang adalah Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi, Sekretaris Prodi, atau pihak-pihak yang mewakili Fakultas / Prodi Psikologi (dapat lebih dari 1 orang). Peserta yang hadir dalam pertemuan itu ada 13 orang. Mereka antara lain adalah:

  1. Bapak Dr.rer.nat. Arief Fahmi, MA., HRM., Psikolog., dari UII Yogyakarta.
  2. Bapak Dr. Tarsius Priyo Widiyanto, M.Si., dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
  3. Ibu Dr. Rita Eka Izzaty, S.Psi., M.Si, dari Universitas Negeri Yogyakarta.
  4. Ibu Dr. Esti Hayu Purnamaningsih, M.S., dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
  5. Ibu Mira Aliza Rachmawati, S.Psi., M.Psi., dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
  6. Ibu Dra. Indriyati Eko Purwaningsih, S.Psi., M.Psi., dari Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Yogyakarta.
  7. Ibu Flora Grace Putranti, S.Psi., M.Si., dari Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Yogyakarta.
  8. Bapak Anwar, S.Psi., M.Si., dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
  9. Bapak Adi Heryadi, S.Psi., M.Psi., dari Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta.
  10. Ibu Kondang Budiani, MA., Psikolog, dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta
  11. Ibu Erny Hidayati, S.Psi., MA., dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
  12. Ibu Nuristighfari Masri Khaerani, S.Psi., M.Psi., dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
  13. Ibu Dr. Arundati Shinta, MA, dari Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Daftar peserta tersebut berasal dari 10 Prodi Psikologi di Yogyakarta. Padahal sebenarnya ada 12 Prodi Psikologi di Yogyakarta. Ada 2 wakil Prodi Psikologi yang tidak hadir yaitu dari UTY (Universitas Teknologi Yogyakarta) dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Dalam pertemuan persiapan kolokium tersebut ada beberapa isu hangat yang dibahas. Isu-isu tersebut akan dibahas pada pertemuan AP2 TPI di Manado. Isu tersebut antara lain:

  1. Kerjasama antar Fakultas Psikologi dengan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Bentuk kerjasama antara lain BNSP memberi sertifikat ketrampilan training pada para mahasiswa. Hal ini karena lulusan S1 psikologi diijinkan untuk memberikan training. Pertanyaannya, apakah BNSP statusnya lebih tinggi daripada Fakultas Psikologi? Pertanyaan ini penting sebab mungkin saja BNSP kelak akan memberikan sertifikat untuk kemampuan observasi, wawancara, public relation, dan ketrampilan lainnya. Bila hal itu terjadi, lalu apa fungsi ijasah dari perguruan tinggi? Apakah status ijasah lebih rendah daripada sertifikat BNSP? Di sisi lain, banyak organisasi yang mensyaratkan para pelamarnya mempunyai banyak sertifikat ketrampilan. Inilah polemik yang harus diputuskan oleh AP2TPI.

  1. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menerapkan prinsip inklusi pada sistem penerimaan mahasiswa baru. Ada satu mahasiswa Psikologi UIN yang berkebutuhan khusus yatu buta dan tuli. Haruskah ia diterima menjadi mahasiswa Psikologi? Kalau diterima, maka ia tidak akan bisa mengikuti pelajaran yang berhubungan dengan tes-tes psikologi. Kalau tidak diterima maka Fakultas Psikologi akan bertentangan dengan UIN. Ini menjadi polemik ayng juga harus diputuskan oleh AP2TPI.

  1. Standarisasi pendidikan termasuk kurikulumnya di tingkat ASEAN. Ini adalah strategi untuk menghadapi MEA.

Dalam pertemuan di UII tersebut juga dibahas tentang frekuensi pertemuan para wakil Fakultas Psikolog se-DIY. Pertemuan itu untuk saling menolong ketika Fakultas Psikologi itu menghadapi akreditasi. Akhirnya pertemuan diputuskan akan dilakukan sekali setiap 3 bulan. Tempat pertemuan berpindah-pindah, dan setiap universitas tentu akan mendapatkan giliran. Pertemuan yang akan dilakukan pada akhir April 2017 dilakukan di UNY. Topik-topik yang akan dibahas di UNY antara lain:

  1. Kerjasama antar Fakultas Psikologi di Yogyakarta. Kerjasama ini sangat bermanfaat untuk memperkaya akerditasi.

  1. Learning outcome (capaian pembelajaran) dari kurikulum psikologi yang sekarang ini sedang dijalani.


Pada masa depan, semoga wakil-wakil dari Fakultas Psikologi UP45 terutama para dosen mudanya aktif mengikuti pertemuan-pertemuan seperti ini. Pertemuan antar prodi psikologi ini juga menambah eratnya silaturahmi. Ketika Fakultas Psikologi Univesitas Proklamasi 45 Yogyakarta mendapatkan giliran (sebagai tuan rumah), maka diharapkan pada dosen muda menjadi ujung tombak bagi pelaksanaan acara. Selamat berkarya.
Post a Comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top