KDRT (KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA) DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM BIDANG EKONOMI

Diposkan oleh Label: di


PUBLIKASI DOSEN DAN MAHASISWA PADA LEVEL NASIONAL

Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Latar belakang tulisan ini adalah banyaknya perempuan yang merasa dirinya tidak berdaya bila berhadapan dengan pasangan yang sadis / kejam. Para perempuan tetap bertahan dalam singgasana perkawinan berdasarkan alasan anak, tidak mampu mencari nafkah, dan nama baik di lokasi tempat tinggal. Perempuan cenderung bersedia mengorbankan dirinya demi cinta dari suami yang kejam dan tidak tahu diri. Mengapa banyak perempuan yang tidak dapat melihat jalan terang di tengah kabut hitam dalam hidupnya? Ini adalah kasus klasik, yang akan terus terjadi sepanjang masa karena ada hubungannya dengan budaya. Perempuan selalu marginal posisinya dalam masyarakat. Adakah jalan jitu untuk mengatasinya?


Cara paling jitu menghadapi KDRT adalah pemberdayaan diri melalui sektor ekonomi. Berdasarkan upaya-upaya pemberdayaan ini perempuan menjadi merasa mampu untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Hal ini karena makna dari pemberdayaan adalah memberikan sebagian kekuasaan kepada orang yang tertindas. Bila perempuan mampu mengurus ekonomi keluarganya maka mereka akan mampu menghadapi suami yang kejam.

Untuk bangkit secara ekonomi, maka perempuan harus belajar, mengikuti kursus, dan mempunyai ketrampilan yang memadai. Ketrampilan itulah yang akan menerangi hidupnya. Apalagi bila organisasi yang peduli perempuan itu memberikan pinjaman modal, maka perempuan akan menjadi lebih bersemangat dalam memberdayakan dirinya.

Perempuan yang teraniaya dalam kasus ini, sudah menjalani perkawinan yang kejam selama 12 tahun. Hal itu berarti ia sudah mengalami kekerasan secara fisik (marital rape, dan pukulan-pukulan), kekerasan psikhis (dihina), dan kekerasan ekonomi (tidak mendapatkan uang untuk hidup) lebih dari satu dasa warsa. Sungguh lama bagi seseorang yang mengalami kehinaan dalam hidup, untuk bangkit. Hal itu masih dikategorikan beruntung karena ia akhirnya bisa bangkit dari lumpur kehidupan. Di Indonesia dan belahan dunia lainnya, masih banyak perempuan teraniaya dan tidak sempat mencecap pemberdayaan, karena sudah terlanjur meninggal.

Sungguh menyedihkan, hidup perempuan yang mengalami KDRT. Begitu sedihnya sehingga ada yang menanyakan ”Apakah suatu dosa, bila terlahir sebagai seorang perempuan?”. Oleh karena itu, mumpung sekarang kita masih diberi kesempatan untuk belajar, masih dalam kondisi sehat, maka marilah kita segera memberdayakan diri sendiri. Janganlah menyerah pada kesulitan, karena kesulitan pada hakekatnya adalah cara untuk membuat kita pandai.

Sebagai catatan, tulisan lengkap naskah ini sudah dipresentasikan dalam ajang nasional atau call for paper di Fakultas Psikologi Univesitas Muria Kudus, pada 13 Agustus 2016. Penelitian ini dapat terselenggara karena adanya Program Menulis untuk mahasiswa, yang dimulai sejak mahasiswa duduk di semester awal yaitu pada pelajaran Psikologi Industri & Organisasi. Mahasiswa dibimbing secara intensif untuk menulis dan menyelesaikan penelitian kecilnya. Penelitian ini dibimbing secara intensif oleh penulis utama dan juga peneliti dari Malang. Semua pihak bergotong royong agar tulisan ini dapat berlaga di kancah nasional dan mengharumkan nama Prodi Psikologi UP45.

Versi lengkap dan resmi dari naskah ini ada pada lampiran di bawah ini. Semua naskah karya dosen direncanakan akan dipublikasikan melalui majalah Kupasiana dan juga media daring lainnya. Publikasi daring ini untuk memenuhi azas transparansi, penyebarluasan gagasan, dan juga untuk mempermudah proses akreditasi Program Studi Psikologi UP45 serta akreditasi institusi.


Suggested citation:

Handayani, D., Hidayah, N., Mahmudah, S. & Shinta, A. (2016). KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan pemberdayaan perempuan dalam bidang ekonomi. Prosiding Seminar Nasional Psikologi: Aktualisasi Potensi Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas. Kudus: Badan Penerbit Universitas Muria Kudus dan Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus.13 Agustus 2016. No. ISBN: 978-602-1180-32-7, halaman 18-27. 
http://eprints.umk.ac.id/6115/4/2_KDRT.pdf











Post a Comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top