SUNGAI SEBAGAI ARENA BERMAIN YANG SEHAT BAGI ANAK-ANAK

Diposkan oleh Label: di

 KIPRAH DOSEN & ALUMNI UP45 DI RADIO SONORA

 

 Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Anak-anak membutuhkan ruang untuk bermain dan bersosialisasi meskipun di tengah pandemi seperti saat ini. Terlebih bagi anak usia dini, bermain merupakan kegiatan memacu kreativitas anak dan kesempatan belajar beradaptasi dengan lingkungan. Kegiatan bermain membutuhkan arena yang nyaman, aman, serta sehat baik dari segi fisik maupun psikis. UP45 bekerjasama dengan Radio Sonora 97.4 FM Yogyakarta mengangkat tema “Sungai sebagai arena bermain yang sehat bagi anak-anak”, disiarkan secara langsung pada 15 September 2020.

 

Keberadaan sungai di perkotaan sangat terbatas maka harus dipertahankan dan dimanfaatkan seefektif mungkin. Permasalahan yang sering di jumpai di perkotaan tentang keberadaan sungai yaitu kondisi yang penuh sampah dan menimbulkan bau yang tidak sedap. “Peraturan daerah tentang konservasi lingkungan sungai bermanfaat untuk menjaga keberadaan dan fungsi sungai”, ungkap  Lucia Setyawahyuningtyas, S.H., M.Kn., salah satu narasumber dan juga Dosen Fakultas Hukum UP45.

 

Sungai sebagai salah satu unsur lingkungan yang alami mampu menjadi arena untuk merangsang dan menciptakan eksperimentasi dan eksplorasi bagi anak. “Bermain di arena sungai merupakan kegiatan yang memacu kreativitas anak. Kebebasan bergerak, berinteraksi dengan teman, berkreasi dan mampu memberikan stimulasi bagi aspek-aspek perkembangan anak usia dini “, jelas Yudha Andri Riyanto, S.Psi., dari Resource Development Yayasan Tunas Sekar Lintang, DIY.

 


Sebuah tantangan bagi kita bersama dalam mensosialisasikan edukasi lingkungan hidup serta mengajak setiap lapisan masyarakat dalam pengelolaan sungai. Masyarakat hendaknya lebih aktif dan lebih kreatif dalam memanfaatkan sumberdaya lokal yang bertujuan untuk membentuk rasa memiliki dan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Berikut merupakan rangkuman pertanyaan pendengar dan jawaban penulis serta narasumber lainnya saat acara siaran berlangsung.

 

 

1)    Bapak Wiyono, di Polsek Kalasan. Bagaimanakah ciri-ciri sungai yang sehat dan aman bagi arena bermain anak? Bila di Jogya di daerah mana sungai tersebut?

Jawaban: Ciri-ciri sungai yang sehat tentunya yang alami dan terbebas dari berbagai polusi seperti halnya limbah sampah. Aman atau tidaknya sungai sebagai arena bermain bagi anak-anak, tergantung dari kecermatan pendampingan yang diberikan ketika anak berkegiatan.

 

2)    Mbak Dina, di Jogja. Bagaimana keamanan bagi anak ketika bermain di sungai di saat pandemi seperti saat ini?

Jawaban: Tetap mengikuti protokol kesehatan dan sebagai kesempatan bagi Orang tua untuk memberikan edukasi yang tepat bagi anak dalam beradaptasi dengan lingkungan.

 

3)    Mas Toro, di Jogja. Daerah mana saja di kawasan Jogja yang memiliki sungai yang aman bagi anak? Apakah program “kota kumuh” mampu memberikan pemahaman bagi masyarakat yang hidup di sekitar bantaran sungai?

Jawaban: Penting bagi para Orang tua dan pendamping untuk selalu cermat dalam mendampingi anak-anak saat berkegiatan di sungai. Program akan terlaksana sesuai dengan yang diharapkan apabila ada kesadaran dari masyarakat sendiri.

 

4)    Mas Udo, di Condongcatur. Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat yang tidak berwenang untuk turut berperan aktif dalam pengelolaan sungai? Masih banyak sungai yang belum terjaga dengan baik, apakah karena tidak ada undang-undang yang mengatur pengelolaan atau karena aparat yang kurang tegas?

Jawaban: Semua lapisan masyarakat dapat turut berperan aktif dalam pengelolaan sungai, bahkan yang tidak berwenang sekalipun. Upaya yang bisa dilakukan misalnya, mendukung pengelolaan sungai dengan tidak membuang sampah di aliran sungai. Menulis artikel dan mempublikasikan tentang pelestarian sungai, mengajak dan memberi edukasi masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai untuk aktif menjaga kebersihan dan kreatif mengelola sungai. Peran peraturan daerah serta keberadaan aparat tidak akan optimal bila tidak di dukung oleh semua lapisan masyarakat.

 

5)    Ibu Hafizah di Giwangan. Bagaimana tips mengelola sungai untuk arena bermain anak-anak?

Jawaban: Penting menjaga kebersihan aliran sungai dan secara kreatif menata agar daerah sungai menjadi lebih aman, sehat dan menarik bagi anak. Misal di Jogja, dapat dilihat di sebagian daerah aliran Gajahwong, aliran Selokan di daerah Bantul, yang sengaja dikelola menjadi tempat rekreasi. Ada taman tumbuhan, diberi benih ikan, diwarnai dengan beragam ornamen yang sangat menarik.

 

6)    Bapak Ananto di Cik Ditiro. Senangnya bila sungai-sungai di Jogja menjadi tempat bermain yang aman bagi bagi anak-anak. Mohon beri info tentang anak-anak yang mancing ikan. Karena mancing membutuhkan kesabaran yang tinggi. Karena anak dan keponakan yang cenderung hiperaktif, tidak bisa diam. Saya berpikir memancing bisa menjadi metode pendidikan yang baik. Bagaimana caranya?

Jawaban: Bila memancing dirasa bisa menjadi metode pendidikan yang baik bagi anak yang cenderung hiperaktif, tidak bisa diam karena memancing membutuhkan kesabaran yang tinggi. Hal ini bisa dilakukan lebih pada “proses” yaitu mengajarkan tentang bagaimana mempersiapkan umpan, kail dan lainnya. Dalam pendampingan anak terlebih usia dini, lebih mengutamakan tentang proses dari pada “hasil”. Jadi bukan dengan mengajarkan pada anak tentang bagaimana cara mendapatkan ikan yang besar dan banyak.

 

7)    Ibu Dian di Sewon Bantul. Saya masih merasa was-was (kawatir), bila membiarkan anak-anak bermain di sungai karena masih trauma dengan kejadian- kejadian adanya anak yang hanyut dan kecelakaan yang terjadi di sungai. Bagaimana menghadapi hal tersebut?

Jawaban: Terjadinya kecelakaan atau hanyut di sungai lebih disebabkan oleh ketidak cermatan pendamping. Maka penting adanya persiapan dan pengawasan serta edukasi yang tepat ketika mengadakan kegiatan di sungai.

 

8)    Mbak Yeni di Bantul. Anak-anak sekarang lebih suka main gadget daripada bermain di sungai. Bagaiana mengatasi hal tersebut?

Jawaban: Setiap kegiatan bermain yang dilakukan oleh anak tetap memiliki sisi positif dan negatifnya. Tugas Orang tua atau pendamping adalah mengarahkan anak agar bermain untuk mendapat sisi positif dan meminimalisir resiko yang mungkin terjadi. Perlu lebih dipahami bahwa bermain di arena yang alami seperti halnya sungai mampu menjadi stimulus yang lebih baik dari pada bermain gadget bagi perkembangan berbagai aspek fisik, motorik dan psikologis anak-anak. 

 

Pendengar yang mengirimkan pertanyaan dan beruntung mendapatkan hadiah dari Two Hundred Sixty Six Coffe and Barber Shop sebagai salah satu sponsor, yaitu pemilik nomor 081…52 dan 087…00. Terima kasih kepada seluruh Sahabat Sonora 97.4 FM Yogyakarta.

 

Widiantoro, FW (15 September 2020)

Post a comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top