MEREVIEW JURNAL PENELITIAN TERNYATA TIDAK SULIT

Diposkan oleh Label: di

 

TUGAS PSIKOLOGI INOVASI

Arundati Shinta

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Tugas mereview jurnal penelitian adalah tugas yang gampang-gampang sulit. Tugas itu gampang bagi orang yang senang menulis dan membaca secara kritis. Sulit bagi orang yang senang bekerja secara klumpukan atau menunggu tugas-tugas banyak sehingga mereview jurnal menjadi terlantar. Kualitas review menjadi buruk. Sebetulnya, seberapa sulit membuat review tersebut? Syarat untuk membuat review jurnal adalah tidak perlu menulis semua isi jurnal. Hanya butir-butir penting dan relevan saja yang ditulis. Apa saja butir-butir tersebut? Butir-butir tersebut yakni topik, sumber, teori, permasalahan, metode, hasil penelitian, dan diskusi. Agar bisa cepat membuat review jurnal, memang butuh latihan. Selain itu, pembuat review memang harus benar-benar mencintai topik besar dari jurnal. Topik besar dari contoh review ini adalah resiliensi.

 

Tugas review jurnal ini sebenarnya adalah kepanjangan dari tugas membuat Kartu Pintar. Semoga teman-teman mahasiswa masih ingat pembuatan kartu pintar pada palajaran Psikologi Sosial 1, Metode Penelitian, Psikologi Inovasi, PIO, Psikologi Lingkungan. Kartu Pintar dan review juranl ini sangat membantu penyusunan karya tulis saya, bahkan sampai disertasi. Kalau tidak ada review jurnal dan kartu pintar, maka mungkin saja saya tidak selesai S3-nya. Oleh karena itu sangat saya sarankan untuk membuat review jurnal dan kemudian kartu pintar. Semoga tulisan ini bermanfaat dan mempercepat studi para mahasiswa dalam menyusun skripsi dan tulisan-tulisan lainnya. 

Topik

Resiliensi ibu yang tinggal di tempat kumuh. Ini adalah penelitian yang merupakan best practice (deviasi positif).

Sumber

Aisyah, P. & Listiyandini, R.A. (2015). Peran resiliensi dalam memprediksi kualitas hidup ibu yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung. Prosiding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Arsitektur & Teknik Sipil). Universitas Gunadarma, Depok. 6, Oktober, P58-P65.

Teori

§   Masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung kualitas hidupnya rendah karena mereka menghadapi hal-hal yang buruk dalam bidang lingkungan (pencemaran sungai), psikologis (kesepian, perceraian, takut anak terkena pergaulan bebas), dan hubungan sosial. Pendidikan mereka rendah dan secara ekonomi miskin.

§   Kualitas hidup yakni penilaian seseorang mengenai posisinya dalam kehidupan berdasarkan nilai-nilainya, tujuan hidupnya, harapannya, standarnya serta perhatiannya. Contoh, saya hidup di bantaran Sungai Ciliwung yang tercemar. Meskipun demikian, saya merasa hidup saya cukup nyaman, punya banyak teman, tetangga yang saling menolong. Ini berarti kualitas hidup saya baik. Pengukuran kualitas hidup berdasarkan dimensi kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan.

§   Resiliensi adalah cara mengatasi berbagai hambatan / coping strategy ketika seseorang mengalami situasi yang sulit dalam hidupnya (adversity). Resiliensi mengandung unsur ketabahan, ketahanan dan tidak mudah putus asa. Resiliensi merupakan kualitas pribadi yang memungkinkan seseorang berkembang ketika menghadapi kesulitan dalam hidup. Kualitas pribadi itu antara lain mempunyai harga diri yang tinggi, kemampuan bersosialisasi, kemampuan berkomunikasi, mempunyai internal locus of control. Orang-orang itu juga beruntung karena mendapatkan dukungan emosi yang kuat dari orangtua, saudara, pasangan dan teman. Ia juga punya model yang kuat.

§   Orang-orang yang bermasalah dengan kesehatan fisik seperti epilepsi, HIV/AIDS dan gagal ginjal, dapat hidup lama karena mempunyai resiliensi.

§   Hipotesisnya adalah ada hubungan positif antara resilensi dan 5 5 aspek kualitas hidup para ibu yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung. Semakin tinggi resiliensinya, semakin bagus kualitas hidupnya (fisik, psikologis, hubungan sosial, lingkungan).

Perma-

salahan

Idealnya, ketika seseorang hidup dalam lingkungan yang buruk yang tidak bisa diatasinya sendirian (seperti bantaran Sungai Ciliwung), maka ia akan segera pindah. Kenyataan yang ada, para ibu yang tinggal di tempat kumuh itu tidak pindah bahkan merasa nyaman hidup di bantaran tersebut.

Metode

§  Alat mengungkap resiliensi adalah CD-RISC (Connor-Davidson Resilience Scale) yang sudah dimodifikasi peneliti.

§  Alat pengungkap kualitas hidup adalah WHOQOL-BREF yang sudah dimodifikasi peneliti dan mengandung 4 aspek yakni kesehatan fisik, kesejahteraan sosial, hubungan sosial dan lingkungan.

§  Jumlah responden adalah 100 ibu yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Kalurahan Bukit Duri dan Kampung Melayu. Sampel diambil secara insidental (kebetulan bertemu peneliti) dan mempunyai karaktersitik tertentu yakni ibu yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung minimal satu tahun, usia 20-40 tahun. Lama tinggal menunjukkan mereka pernah menghadapi situasi yang tidak nyaman secara nyata (kriminal, banjir).

§  Analisis statistiknya adalah korelasi product moment

Hasil penelitian

§  Hipotesis penelitian diterima. Ada hubungan positif dan signifikan antara resiliensi dengan kualitas hidup aspek fisik (r = 0,617), dengan kualitas hidup aspek psikologis (r = 0,566), dengan kualitas hidup aspek hubungan sosial (r = 0,667), dan dengan kualitas hidup aspek lingkungan (r = 0,629).

§  Artinya semakin tinggi resiliensinya, maka kualitas hidupnya juga semakin bagus.

Diskusi

§  Meskipun tinggal di daerah yang sangat tidak layak, namun para ibu itu cukup nyaman tinggal di daerah tersebut. Mereka menolak untuk pindah. Ini terjadi karena mereka mendapat bantuan  dari Sanggar Ciliwung Merdeka. Kelompok tersebut mempunyai program menarik seperti perpustakaan, latihan kesenian, ruang pengolahan musik, klinik dokter umum, klinik gigi, apotek, dorongan untuk berwirausaha, dan pagelaran seni.

§  Kelamahan penelitian ada tiga yakni:

1)     Penelitian ini tidak menyebutkan angka validitas dan reliabilitas alat ukur, sehingga sulit untuk penelitian replikasi.

2)     Peneliti tidak menjelaskan lebih rinci tentang manfaat karakterisitk responden terhadap kualitas hidup. Karaktersitik responden yang belum diungkap secara rinci yakni agama dan status perkawinan.

3)     Peneliti juga tidak mengungkap jumlah anak yang dimiliki responden. Padahal kepemilikan anak mungkin bisa membuat situasi rumah menjadi lebih terawat, atau ada tambahan penghasilan.

 

 

2 comments:

Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top