KEPEDULIAN ORANG TUA PADA PENDIDIKAN ANAK DI MASA PANDEMI

Diposkan oleh Label: di

 

KIPRAH DOSEN UP45 DI RRI

 

Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

 


Kepedulian orang tua sangat mempengaruhi proses pendidikan anak terlebih di masa pandemi seperti saat ini. Keberlangsungan proses belajar anak di rumah, serta adaptasi terkait fase New Normal harus terus diupayakan. “Kepedulian Orang Tua pada Pendidikan Anak di Masa Pandemi” diangkat sebagai tema dalam acara Dialog Lintas Yogya Sore, disiarkan secara langsung oleh RRI Pro 1 FM 91.1, Yogyakarta, Jumat, 18 September 2020, pukul 15.15. - 16.00.

 

Penting membangun suasana yang kondusif di rumah agar anak dapat belajar dengan baik. Pendidikan ilmu pegetahuan maupun pendidikan karaktek anak-anak hendaknya menjadi perhatian utama bagi setiap Orang tua. Orang tua mau tidak mau, suka tidak suka, harus belajar dan beradaptasi dengan pola pembelajaran yang sedang diterapkan pemerintah, yaitu pembelajaran daring. Tentunya orang tua harus belajar dan tidak gagap teknologi.

 

Tujuan Orang tua dalam mendampingi proses belajar bagi anak di rumah lebih pada membentuk sikap keteraturan belajar pada diri anak. Harapannya Orang tua mampu menjadi motivator bagi anak. Orang tua pun dapat lebih proaktif membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah.

 


Realita yang terjadi yaitu tidak semua Orang tua mampu mengatasi stres yang mendera akibat kondisi pandemi. Bahkan memunculkan kekerasan secara verbal maupun fisik pada anak. Hendaknya setiap Orang tua memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik terlebih dalam berinteraksi dengan anak. Anak belajar dari apa yang dilihatnya serta keteladanan yang diberikan oleh pendamping serta orangtuanya.

 

Agar pendidikan bagi anak dapat terlaksana dengan baik di saat kondisi pandemi, penting diperhatikan oleh Orang tua antara lain kesehatan anak dengan terpenuhinya nutrisi. Orang tua bijak mendampingi ketika anak menggunakan gawai. Adanya kesepakatan dalam membatasi intensitas anak ke luar rumah. Orang tua pun perlu memberikan kesempatan bagi anak untuk rekreasi.

 

Antusiasme pendengar untuk interaktif dalam acara siaran ini sangatlah tinggi. Begitu banyak pertanyaan yang dikirimkan melalui aplikasi Whatsapp dan telepon. Berikut merupakan rangkuman dari sekian pertanyaan pendengar dan jawaban dari pembicara sekaligus penulis ketika acara siaran berlangsung.

 

1.    Bapak Handri di Jogja. Dalam kondisi sekarang, bagaimana antara menuruti kemauan anak dan dalam menstimulasi perkembangan agar anak bisa beraktifitas setidaknya sama seperti saat berada di sekolah?

Jawaban: Dibutuhkan kreatifitas Orang tua dalam memberikan kegiatan bagi anak ketika berada di rumah sesuai usia tumbuh kembang anak. Kesepakatan dalam menyusun dan melaksanakan kegiatan dapat didiskusikan agar anak tidak merasa terpaksa dan untuk menumbuhkan kesadaran dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Ragam kegiatan dapat dikonsultasikan dengan guru sesuai kurikulum yang ada.

 

2.    Bapak Ade di Giwangan. Mata pelajaran apa yang cocok dan bagaimana diajarkan kepada anak sehingga anak tidak merasa bosan? Bagaimana pandangan psikologi, apakah kegiatan yang monoton dapat mengganggu kesehatan mental anak?

Jawaban: Mata pelajaran telah disusun sesuai kurikulum yang berlaku. Semua bertujuan sebagai stimulasi perkembangan pengetahuan bagi anak. Agar anak tidak bosan dalam kegiatan belajar maka dibutuhkan kreatifitas Orang tua dalam memberi motivasi bagi anak. Kegiatan yang monoton dapat mengganggu kesehatan mental anak maka Orang tua dapat membantu menyusun jadwal kegiatan keseharian serta memberi kesempatan bagi anak untuk rekreasi. 

 

3.    Bapak Ahmad Prasetyo di Minggiran. Anak terlalu banyak diberi tugas daripada diberi penjelasan mengenai pelajaran oleh guru yang mengampu. Bagaimana tips membangun semangat untuk anak pada masa pandemi ini?

Jawaban: Suasana yang kondusif untuk belajar di rumah, pola komunikasi yang baik antara anggota keluarga serta keteladanan sikap positif dari Orang tua mampu membangun semangat bagi anak pada masa pandemi saat ini.

 

4.    Ibu Nanik di Ngampilan. Tema sore hari ini menarik sesuai dengan kondisi yang saat ini terjadi. Bagaimana melatih kesabaran Orang tua yang suka marah-marah dalam mendampingi anak ketika belajar di rumah di masa pandemi ini?

Jawaban: Baik bila Orang tua mampu mengelola emosinya terlebih dalam mendampingi anak-anak. Harapannya untuk mencegah terjadinya kekerasan verbal maupun fisik kepada anak. Perhatikan intonasi suara, sikap tubuh hingga ekspresi wajah ketika berkomunikasi dengan anak. Kondisi psikologis anak cenderung dipengaruhi oleh apa yang anak dengar dan lihat.   

 

5.    Ibu Hafizah, di Jogja. Sebagai Orang tua sudah seharusnya peduli terhadap pendidikan anaknya terlebih pada masa pandemi seperti saat ini. Peran Orang tua sangatlah membantu. Namun kenyataannya tidak seperti itu, ada kasus dimana Orang tua tidak sabar mendampingi anaknya dalam belajar hingga anaknya dibunuh. Bagaimana menanggapi kondisi tersebut?

Jawaban:

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini tentu tekanan psikologis bagi setiap Orang tua pun semakin berat. Harapannya Orang tua mampu mengelola dan mengontrol emosinya terlebih ketika mendampingi anak. Luangkan waktu sejenak untuk lebih menata emosi sebelum berhadapan dan berkomunikasi dengan anak. Atur jadwal agar ada kesempatan untuk sekedar ngobrol santai dan rekreasi bersama semua anggota keluarga yang ada.

 

6.    Ibu Tumini, di Jogja. Anak saya kelas 4 SD, tugas dari sekolah sangat banyak sehingga anak merasa pusing kesal dan lesu. Kadang saya yang mengerjakannya. Bagaimana menyikapi hal tersebut?    

Jawaban: Dalam menghadapi kondisi adanya tugas anak yang banyak dari sekolah. Hendaknya Orang tua mampu bijak dalam bersikap. Orang tua dapat berperan sebagai motivator yang baik agar anak mau dan bersemangat mengerjakan tugas tersebut. Lebih mengutamakan keteraturan dan membangun kesadaran anak untuk belajar dibanding menuntut hasil yang sempurna.  

 

7.    Bapak Hadoko, di Umbulharjo. Saya kerja di luar kota, sedangkan anak diasuh oleh pengasuh dan Eyangnya. Bagaimana cara efektif untuk mengontrol aktivitas yang dilakukan oleh anak agar mau melakukan seperti yang saya harapkan ketika saya berada di luar kota karena Eyangnya cenderung terlalu memanjakan?

Jawaban: Orang tua tidak selamanya mampu mendampingi anak secara fisik.   Ketika berada bersama dengan anak, bangunlah kedekatan, kepercayaan serta komunikasi yang efektif. Penanaman nilai-nilai pada diri anak akan berkembang ketika anak benar-benar memahaminya. Harapannya nilai-nilai tersebut tetap menjadi panduan sikap anak meskipun jauh secara fisik bahkan ketika tidak didampingi oleh Orang tua. 

 

8.    Bapak Andika, di Jogja. Saya single parent. Anak saya 1, usia 9 tahun. Saya juga sibuk kuliah. Saya pernah mendatangkan mentor perempuan untuk mendampingi belajar anak. Namun anak saya menjadi trauma.  Bagaimana cara mengatur jadwal agar dapat mendampingi anak?

Jawaban: Dalam memberikan perhatian dan pendampingan bagi anak penting menumbuhkan rasa aman dalam diri anak sehingga anak juga mampu merasa aman dan bebas dalam menumbuh kembangkan segala potensi dirinya. Harapannya anak memiliki rasa percaya diri yang baik dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Penting pula memberikan pemahaman tentang kondisi anak yang mungkin berbeda dengan kondisi teman sebaya lainnya. Seperti dalam kasus anak yang dibesarkan oleh Orang tua yang single parent.

 

Terima kasih kepada para pendengar RRI Pro 1 FM FM 91.1, Yogyakarta dan untuk para orang tua yang telah begitu sabar dalam mendampingi putra putrinya saat belajar di rumah.

 

 

Widiantoro, FW (18 September 2020)

Post a comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top