MENDORONG ANAK UNTUK BERANI BEREKSPERIMEN

Diposkan oleh Label: di

 

PARTISIPASI RADIO SONORA & UP45 DALAM MENDORONG ORANGTUA

UNTUK MENDIDIK ANAK DENGAN KASIH

 

Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Kegiatan bereksperimen dapat meningkatkan kemampuan dan kreativitas sesuai dengan tahap perkembangan anak. Anak sangat menyukai hal baru sehingga anak secara aktif akan mengamati, menilai, dan menyimpulkan hasil dari eksperimen yang dilakukan. Upaya mendorong anak untuk berani bereksperimen ditinjau dari sisi psikologis menjadi tema yang sangat menarik.  Acara hasil kerjasama antara Fakultas Psikologi UP45 dengan Radio Sonora 97.4 FM (15/12).

 

Tujuan mendorong anak untuk berani bereksperimen antara lain agar anak berkesempatan mempraktikkan apa yang mereka pelajari di sekolah. Terlebih dalam mengisi kegiatan di rumah di masa pandemi agar pembelajaran dapat dilakukan secara menyenangkan dan tidak hanya sekadar teori. Seperti dikisahkan oleh Dyah Rosiana Puspitasari, S.H., LL.M., Dosen fakultas Hukum UP45, sebagai salahsatu narasumber.

 

“Bereksperimen menjadi stimulus pengembangan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangan anak. Antara lain kemampuan kognitif, fisik atau motorik, berbahasa. Penting orangtua selaku pendidik memberikan dukungan dan apresiasi terhadap anak“, jelas Yudha Andri Riyanto, S.Psi., Alumni Fakultas Psikologi UP45 Yogyakarta dari Resource Development Yayasan Tunas Sekar Lintang, DIY.

 


Berikut merupakan rangkuman dari ragam pertanyaan pendengar radio saat acara berlangsung dan jawaban dari penulis dan pembicara lainnya.

 

1)    Ibu Gusti, di Maguwo. Bagaimana memfasilitasi anak untuk bisa dan mau beraktifitas, kadang-kadang banyak benda-benda berbahaya di sekitar kita, misalkan api, pisau dan lainnya. Sedangkan kita dianjurkan untuk tidak mengeluarkan kata “jangan” dan kata “tidak”, di tengah masa eksplorasinya anak.

Jawaban: Hendaknya kita mampu mengolah kata-kata dalam berkomunikasi dengan anak. Misalnya untuk menghindari pemakaian kata “jangan”, bisa diganti atau dialihkan dengan kalimat pertanyaan “Pisau itu kegunaannya untuk apa?”. Kata “jangan” bagi anak bisa memiliki persepsi yang berbeda. Misalkan anak akan berpikir bahwa pisau memang tidak boleh digunakan dan sebagainya. Kita sebagai pengasuh dan pendidik bagi anak, diharapkan mampu cermat dalam mengolah kata dari yang negatif menjadi kata yang positif.

 

2)    Bapak Afandi, di Malang. Menjadi Orangtua merupakan hal yang membahagiakan. Orangtua akan melihat pertumbuhan anak secara bertahap. Hal apa saja yang perlu dipersiapkan Orangtua agar anak dapat tumbuh sehat dan aktif, terutama untuk kesehatan dan kecerdasan si anak?

Jawaban: Tentu kita perlu memperhatikan keseluruhan aspek tumbuh kembang anak. Secara fisik, mencakup pemenuhan gizi yang seimbang. Secara kognitif atau kemampuan berpikir anak, mencakup kebebasan bereksperimen. Secara mental, bisa diberikan penerimaan, penghargaan yang sangat mendukung perkembangan kepercayaan diri anak. Semua diberikan sesuai dengan tahap perkembangan anak agar semua potensi anak dapat berkembang optimal.

 

3)    Mba Fikri Aulia Madani, di UMY. Bagaimana jika anak aktif, namun Orangtua membatasi anak untuk bereksplorasi? Adakah dampak psikologisnya?

Jawaban: Anak aktif dapat kita pahami bahwa anak sedang bereksperimen yaitu mengembangkan pembelajaran sesuai dengan tahapan perkembangannya. Ketika anak dalam proses ekplorasi, harapannya Orangtua tidak memberikan larangan, melainkan memberikan tantangan dan arahan agar sikap aktif anak lebih mendukung proses tumbuh kembang dalam dirinya. Dampak psikologis yang mungkin terjadi bila Orangtua membatasi anak untuk bereksplorasi, antara lain yaitu anak akan cenderung kehilangan semangat untuk pengembangan kemampuan diri terlebih dalam bereksperimen. Bahkan anak cenderung kehilangan rasa percaya diri.

 

4)    Ibu Nurhasanah, di Pamekasan, Madura. Setiap manusia memiliki tipe kepribadian masing-masing. Bagaimana sebaiknya bagi seorang Ayah dalam berinteraksi dengan anak dalam menyikapi keberagaman tersebut, agar mampu bersikap adil pada putra-putrinya?

Jawaban: Adil dalam mengasuh dan mendampingi anak, bukan berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua anak. Perlakuan Orangtua hendaknya lebih berdasar pada hal apa yang benar-benar dibutuhkan dalam mendukung tumbuh kembang anak sesuai dengan tahapan. Misal perlakuan pada anak yang membutuhkan pendampingan dalam pengembangan berkomunikasi, tentu berbeda dengan perlakuan bagi anak yang sedang dalam pengembangan motorik atau keterampilan secara fisik.  

 

5)    Ibu Nadia, di Surabaya. Saya Guru TK. Metode apa yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengajaran pada anak didik agar mudah dipahami dan dapat mengembangkan materinya? Metode apa yang dpat meningkatkan rasa percaya diri pada anak?

Jawaban: Kita dapat menggunakan metode tematik yang berpusat pada anak. Tanyakan pada anak, saat itu ingin belajar tentang apa? Misal si anak mengatakan ingin belajar tentang “ikan”, maka gunakan ikan sebagai materi dalam menstimulasi aspek-aspek perkembangan anak. Misal sebagai stimulasi kognitif, sosial emosi, motorik kasar, motorik halus bahkan nilai moral, agama pun bisa terstimulasi. Kondisi yang akan terjadi yaitu anak dan guru sama-sama melakukan proses pembelajaran. Anak mempelajari sesuatu yang menurutnya menarik, sedangkan guru belajar menjadi fasilitator dalam menyampaikan materi pada anak.

 

6)    Mba Yani, di Bantul. Bagaimana cara mendorong anak agar lebih berani bereksperimen, terkait tipe kepribadian anak yang introvert dan ekstrovert?

Jawaban: Masa anak-anak merupakan masa pembentukkan kepribadian. Penting bagi Orangtua, tenaga pendamping mampu memfasilitasi agar anak dapat menumbuh kembangkan segenap aspek dan potensi dirinya. Harapannya anak akan memiliki kepribadian yang sehat. 

 

Pendengar yang telah mengirim pertanyaan menarik dan beruntung mendapat hadiah berupa pulsa cellular yaitu pemilik nomor 089…30 dan 087…96. Terima kasih kepada seluruh Sahabat Sonora 97.4 FM Yogyakarta.

 

Widiantoro, FW (15 Desember 2020)

Post a comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top