DIMANA PECINTA ALAM SAAT INI?

Diposkan oleh Label: di
Agus Priyono
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

Foto : Elisa
Terkesan oleh satu rumor yang mempertanyakan dimana pecinta alam saat ini. Pertanyaan ini sekaligus menjawab teka-teki bahwa ternyata masih ada orang yang tahu tentang pecinta alam.
Berbicara pecinta alam bagi kita tidak lebih seperti berbicara masalah lingkungan yang semakin absurd tidak tahu ujungnya. Tercatat hampir sekitar 250 perhimpunan pecinta alam di Yogyakarta saja, belum di Indonesia. Pada umumnya terdiri dari berbagai elemen masyarakat dari mahasiswa,pelajar sampai organisasi PA (pecinta alam) umum pun hadir menjamur dewasa ini.di mahasiswa terkenal dengan sebutan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di pelajar terkenal dengan nama Sispala (siswa pecinta alam).
Secara umum orang tahu pecinta alam, mereka adalah orang yang suka atau punya hobi naik gunung dengan rambut gondrong, pakaian, aksesoris yang khas menandakan seorang pecinta alam. Sayangnya opini yang menempel pada diri PA ini lebih menjurus pada konotasi yang negative, ini lebih karena sering terjadinya praktek-praktek vandalisme di gunung, tempat wanawisata bahkan dipuncak gunung sekalipun ada coretan-coretan iseng. Terlepas dari apakah ini perbuatan seorang pecinta alam atau hanya kebetulan orang yang iseng saja yang naik gunung membawa spidol atau cat semprot.

Karena sulit membedakan antara pecinta alam asli yang peduli alam dan lingkungannya atau hanya pecinta alam gadungan yang hanya menempelkan nama kerennya saja, anggapan pun semakin luas terhadap perilaku sosial yang tidak terpuji seperti membuat kegaduhan di tengah malam dengan teriak-teriak bahkan lebih kaget lagi adalah sering ditemukannya berbagai macam sampah sampai kondom sekalipun di Taman Wisata Kaliurang, ini siapa lagi kalau bukan orang yang sering main ke gunung.
Terlepas dari konotasi negative tadi, pecinta alam mempunyai satu posisi yang sangat penting perannya dalam membina generasi muda untuk kepedulian terhadap alam ini seperti bisa kita lihat kegiatan-kegiatan penghijauan di lereng Merapi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pecinta alam di Yogyakarta atau aksi bersih kali oleh beberapa pecinta alam di Bandung beberapa bulan. Ini menandakan adanya satu persepsi yang masih belum diketahui oleh kebanyakan orang tentang kegiatan pecinta alam yang tidak saja berkutat di acara mendaki gunung.
Namun dalam tataran politik lingkungan pecinta alam cenderung apolitis dalam tataran gerakan lingkungan secara keseluruhan pecinta alam belum memperlihatkan sebuah sinergi gerakan yang dinamis, sepertinya belum ada satu pemikiran taktis gerakan pecinta alam dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan. Lebih jauh lagi pada peran mahasiswa pecinta alam, masih sedikit aksi-aksi advokasi dari para mahasiswa pecinta alam untuk masalah lingkungan.
 Ini terkesan apatis untuk melakukan advokasi bagi korban pencemaran lingkungan atau penolakan untuk rencana pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan. Ambilah salah satu contohnya di Yogyakarta, ditengah maraknya isu pembangungan kawasan konservasi air dan hutan oleh Pemkot, Jalan Lintas Selatan yang melewati kawasan hutan yang masih alami, Taman Nasional Gunung Merapi, Safir Square , Plaza Book UGM, Pelabuhan ikan di Pantai Glagah yang nyata-nyata tidak sesuai dengan Ketentuan kebijakan lingkungan mengenai Tata Ruang, AMDAL, UU No 23 taqhun 1997, Transparansi dan Akuntabilitas public. Mahasiwa pecinta alam atau kelompok pecinta alam lainnya terkesan acuh tak acuh tidak mau peduli mengkritisinya.
Dikutip dari satu catatan Gerlorfd Nelson senator Amerika tahun 1970 yang disampaikan dalam Catalyst Conference Speech of Illionis tahun 1990, ia mengatakan “ jika ingin mengubah Negara untuk kegiatan-kegiatan yang sulit tentang persoalan kebijakan politik, pecinta lingkungan menjadi sumber kekuatan dengan apa saja dapat dilakukan, jika anda ingin mempunyai Negara untuk kepentingan ekonomi, pikirkan diri anda dan generasi yang akan datang, kita yakin anda dapat melakukannya“. Catatan ini yang menjadi dasar untuk bergerak dalam wacana lingkungan melawan kapitalisme global.
            Kini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk membangun sebuah sinergi gerakan dari para pecinta alam baik itu mahasiswa pecinta alam, siswa pecinta alam ataupun kelompok kelompok pecinta alam lainnya untuk masa depan lingkungan hidup karena masalah lingkungan adalah permasalahan bersama sehingga korelasi antara banyaknya pecinta alam dengan kelestarian alam ini dalam tanda positif bukan sebaliknya. “Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, akan lebih berarti daripada seribu kata yang terucap”
Pecinta alam, seringkali diidentifikasikan sebagai kegiatan yg berhubungan dgn alam. Medaki gunung, menyusuri gua, mengagumi keajaiban dasar samudera, merambah belantara nan sunyi dan sederet kegiatan ‘alam’ lainnya.
 Tentang pencinta sendiri di negeri kita, seringkali kegiatan yg dilakukan hanya sebatas sloganisasi belaka, sebatas mereka menikmati alam untuk diri sendiri, sebatas mencari kepuasan untuk kepentingan pribadi. Pencinta Alam, mereka yg menamakan diri sebagai Pencinta Alam sering kali melakukan banyak aktivitas yg justru mengganggu keseimbangan alam. Menjelajah gunung dan membuat jejak-jejak disana, mencoret batu-batu di puncak, membuang sampah non organik ke sembarang tempat, membuat api unggun yg seringkali lupa dimatikan, memetik Edelweiss hingga beratus-ratus tangkai
Untuk Sebuah organisasi Pencinta Alam (yg biasanya ngetren di kalangan mahasiswa) seharusnya tidak sekadar sebuah tempat bernaung bagi mereka yg senang bertualang saja atau menghabiskan anggaran dana di kampus. Ironis membayangkan mereka melakukan pendakian besar-besaran yg menelan biaya tinggi sampai ke luar negeri, sementara, di negeri sendiri, negeri yg (seharusnya) elok dan kaya akan hutan tropis perlahan mulai kehilangan identitasnya. Pencurian kayu, pembabatan hutan secara liar luput dari penyelamatan sang ‘pencinta alam’ Pencinta Alam.
Dalam konteks bahasa adalah seseorang yg sangat mencintai alam. Mencintai berarti melakukan banyak hal untuk sesuatu/seseorang yg dicintai. Mencoba membahagiakan sesuatu/seseorang yg kita cintai dgn tulus. Melakukan banyak hal agar sesuatu/seseorang yg dicintai merasa nyaman. Mencintai itu tanpa sederet syarat apapun, Mencintai itu sesuatu yg tulus, tanpa pamrih. Mencintai Alam, sama halya dgn melakukan banyak hal untuk alam, tanpa syarat-syarat khusus, tanpa dibarengi rasa keegoisan untuk memiliki alam secara individual, tanpa mengabaikan apa yg sebetulnya dibutuhkan oleh alam. Semua harus dilakukan tanpa pamrih, pamrih untuk dimunculkan di media massa, tanpa pamrih di puji banyak pihak, tanpa pamrih untuk mendapat dukungan dana berlebih yg pada akhirnya digunakan entah kemana. Mencintai alam, mencintai wujud ciptan-Nya, mengasihi setiap apa yg ada di dalamnya. Memulai dari hal kecil di sekitar kita. Meski kecil, andai setiap orang melakukannya pasti hasilnya menjadi lebih berarti.

Kode Etik Pecinta Alam Se-Indonesia

Pecinta alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa 
Pecinta alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air 
Pecinta alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagai mahkluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa

Sesuai dengan hakekat di atas kami dengan kesadaran menyatakan:


  • Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya
  • Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
  • Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
  • Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
  • Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanakan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa, dan

            Pecinta alam konservatif sebenarnya yang di butuhkan alam dan bumi ini. Banyak berkeliaran para pecinta alam atau bahkan yang mengaku dan mengatasnamakan pecinta alam, tetapi hanya sebatas nama dan lambang di jaketnya. Sering kita jumpai khususnya dalam pendakian gunung, pecinta alam - pecinta alam sibuk berpacking dan mempersiapkan perjalanannya. Ditengah jalan, di iringi dengan sayup angin dan suara gemerisik dedaunan, mereka meretas langkah, menyerukan bahwa mereka pecinta alam yang tengah berada di tengah alam. Itu yang banyak di jumpai sekarang ini, bahkan mungkin sejak dahulu.
foto : Papa Elang
    Tetapi, di antara sekian banyak pecinta alam, juga banyak yang tidak tahu sama sekali atau juga lupa tentang kode etik pecinta alam. Kode etik pecinta alam yang memang dibuat bagi para penggiat alam bebas untuk lebih tulus dan sejati mencintai alam. Ada juga yang tumbuh model pecinta alam konservatif walau jumlahnya hanya sepersekian persen dari ribuan "pecinta alam" di Indonesia. Bahkan yang lebih membuat sedih, pecinta alam konservatif hanya tahu menanam pohon di lereng gunung, melakukan bersih gunung, kemudian turun dan selesai!
            Menanam pohon itu mudah, tetapi merawat dalam waktu berkala apakah juga mudah? Padahal itulah yang sebenarnya di butuhkan alam. Bila berpedoman pada menanam pohon itu cukup dan sudah bertindak sebagai pecinta alam konservatif, itu jauh dari sempurna dan jauh dari gelar, pecinta alam konservatif sejati. Sama dengan anda pecinta alam yang ikut - ikutan konservatif!
            Bila saja kita mau melihat ke masa lalu sebetulnya sejarah manusia erat hubungannya dengan alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia masih berburu dan mengumpulkan makanan ( meramu ), alam adalah tempat tinggal mereka, tempat mereka bergantung dan hidup. Jajaran pegunungan adalah tempat mereka bersandar, lembah padang rumput merupakan tempat mereka berbaring, sungai adalah tempat mereka melepaskan dahaga, dan goa - goa adalah tempat mereka berlindung dari sengatan matahari dan terpaan hujan.

            Akan tetapi setelah manusia menemukan kebudayaan dan teknologi, alam menjadi seperti barang aneh dan selalu di eksploitasi. Manusia mulai mendirikan bangunan untuk mereka berlindung, manusia mulai menciptakan barang - barang untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup mereka walau mereka tak menyadari barang - barang tersebut dapat mencemari alam. Manusia juga menciptakan gedung - gedung bertingkat untuk mengangkat kepala mereka dan menonjolkan keegoisan mereka, hingga pada akhirnya manusia dan alam mengukir sejarahnya sendiri-sendiri. Lihatlah di lereng gunung, pohon butuh kita rawat, bila hanya menanam kemudian kita tinggalkan tanpa menerima lagi sentuhan kita, apa yang akan terjadi? Tuhan Maha Kuasa, pohon akan di tumbuhkan oleh - Nya, dan kita yang merawatnya dan memupuknya. Itulah tanda pecinta alam konservatif sejati.
Sama dengan sebuah idiom kata, bila anda sudah beristri kemudian istri melahirkan anak, buah dari cinta, kemudian anda tinggalkan anak dan istri anda. Apa yang patut disematkan di muka anda? Sama dengan alam, setelah anda tanami pohon kemudian anda tinggalkan, gelar apa untuk anda? Marilah berlatih tanggung jawab bagi kami dan anda semua. Jadilah pecinta alam konservatif yang tidak hanya menanam, tetapi juga merawat.
Apa yang kita dapat sih dari pendakian di gunung itu? Apa juga sih enaknya sampai sampai seneng banget naik gunung?"
Seringnya kita hanya tersenyum,tak mampu menjawab semua pertanyaan tadi. Sebenarnya banyak jawaban dan alasan kenapa kita suka naik gunung,tapi semua tak dapat kita sampaikan hanya dengan kata kata, ingin rasanya kita jelaskan semua tapi percuma, jika kita tak akan paham betul dengan alasan tersebut. Di gunung kita belajar hidup mandiri,belajar hidup bersosial, belajar mencintai alam dan lingkungan, belajar menahan ego kita masing masing, belajar dan belajar.
Pecinta Alam Indonesia Abad 21
Seandainya pohon bisa memberontak dan bicara tentunya ia bakal menjerit ketika ditebang, seadainya satwa liar itu bisa bicara tentunya ia bakal menyelamatkan hidupnya, namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah diam saja melihat, mendengar jeritan-jeritan alam yang rusak ditangan kerakusan spesies manusia seperti kita ini. Apakah kita bangga dengan kekuasaan kita sendiri sementara kita telah melakukan bunuh diri secara perlahan bersama-sama oleh perbuatan kita sendiri.
Namun tidak disaat ini, pencinta alam yang sebenarnya hanya pantas ditunjukan pada masyarakat asli hutan, organisasi non pemerintah yang peduli terhadap lingkungan dan alam, individu yang peduli dengan lingkungan hidup lewat kemampuan yang dia bisa, seperti menanam pohon, membuang sampah tidak sembarangan, tidak memelihara satwa liar yang dilindungi UU, tidak menebang pohon ditaman nasional dan disekitar hutan lainnya, naik sepeda, menulis tentang lingkungan, membuat film tentang hutan dan kelestariannya, dan masih banyak lagi bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Makna ‘orang yang suka akan alam’ berarti manusia yang peduli dengan alam dan menjaga kelestariannya. Dengan menjaga kelesatariannya berarti ia membela nasib hutan dan satwa liar yang sedang mengalami kepunahan bukan berpetualang menantang andrenallin naik gunung, memanjat tebing, atau membuka jalur untuk latihan atau dengan bangga bisa menaklukan alam.
Sejarah memang harus dipelajari tentang pendirian pencinta alam yang motori almarhum Soe Hok Gie, Herman Lantang dan kawan-kawan. Di era 60-an memang terjadi pergolakan masa transisi kemerdekaan. Invansi politik praktis diluar kampus Universitas Indonesia lewat organisasi dan kesatuan aksi mahasiswa dari berbagai atribut dan ideologinya berusaha memasuki Universitas. Namun, Almarhum Soe dan rekan-rekannya tidak peduli dan menjadi kelompok yang tidak memihak dengan kemelut politik saat itu. Mereka lari ke gunung dan pergi ke tempat-tempat sepi terpencil. Kalau penulis menyimpulkan contemplasi ala raja-raja Jawa seperti pendeta-pendeta hinduisme. Mereka paham waktu itu posisi benar-benar terjepit. Kebersamaan dan pengalaman itulah lahir istilah pencinta alam, yaitu Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Prajnaparamita FSUI. Di Tahun 1971 nama Prajnaparamita dilepas diganti dengan Mapala UI. Alhasil bangsa yang euforia ini bermunculan organisasi pencinta alam baik dari kampus dan diluar kampus.
Kegiatan mereka hanya berlarian ke gunung, ke goa, ke tebing hanya untuk menikmati alam. Jaman abad ini sudah berubah namun masih ada saja organisasi pencinta alam baik dari kampus dan masyarakat yang bergiat untuk naik gunung, ke goa, arung jeram, ke tebing atau pendidikan seperti gaya militer, menggampar seenaknya calon peserta dengan alasan biar berdisiplin seperti militer. Padahal pendidikan ala militer dewasa ini dengan kekerasan sudah mulai dikurangi.
Pernah penulis mendengar cerita dari aktivis lingkungan dari negeri yang hutannya sudah hilang bahwa seandainya gunung itu dipenuhi sampah dan hutannya gundul, iklimnya panas, sungai dipenuhi limbah pabrik, tebing karst di bom dan batunya diambil untuk bahan lantai, meja, dan satwa liar yang eksotik punah seperti Harimau Jawa, Jalak Bali. Apakah organisasi pencinta alam baik itu dikampus maupun diluar kampus diam saja melihat itu semua.
Memang hutan Indonesia belum parah meski terlihat parah atau sungai-sungai masih belum tercemar hingga bisnis olah raga arus deras pun menjamur atau gunung masih ada tempat menarik meski jauh paling atas, goa-goa masih banyak yang bagus, tebing-tebing masih menjulang tinggi toh mereka hanya santai-santai saja atau tidak perduli sama sekali lebih mementingkan event-event kejuaraan atau pelatihan-pelatihan yang tidak ada hubungannya dengan makna dari pencinta alam. Sangat tragis benar.
Apa ada yang salah dari Almarhum Soe Hok Gie dan kawan-kawan lamanya hingga penerusnya hanya mementingkan kepuasaan sesaat atau kode etik pencinta alam Se-Indonesia yang syahkan bersama dalam gladian ke-4 yang setiap kegiatan wajib dibacakan setiap kegiatan seperti maksud dari pesannya Pencinta Alam Indonesia adalah sebagai dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, Bangsa dan Tanah Air. Dengan kesadarannya mereka (Pencinta Alam) menyatakan pada poin 2 yang isinya memelihara alam beserta isinya menjadi ucapan atau janji tanpa makna (Lip Service).
Namun hasilnya pun hutan tetap gundul, satwa liar makin lama makin punah, bencana lingkungan mulai bermunculan, bahkan pemanasan global yang dibicarakan setiap negara dan para aktifis lingkungan dari LSM dengan gencarnya mencari solusi. Sedangkan organisasi yang namanya Pencinta Alam belum menunjukan taringnya untuk peduli terhadap lingkungan. Bahkan hanya bisa dihitung oleh jari organisasi pencinta alam yang peduli terhadap lingkungan. Atau menurut saran respon dari pembaca tulisan Quo Vadis Pecinta Alam yang ditulis penulis mending diganti saja nama pencinta alam dengan nama jenis petualang. Biar tidak terjadi pembiasan makna dari kata Pencinta Alam.
Alhasil, makin sepinya minat pemuda sekarang untuk masuk organisasi pencinta alam. Tradisi lama masih dipakai tidak ada formulasi-formulasi baru untuk merefleksikan kegiatan-kegiatannya. Atau organisasi pencinta alam dewasa ini telah bangga dengan “establishment” (kemapanan). Kebiasaan-kebiasaan lama yang harus ditinggalkan malah terus diulang-ulang saja seperti pendidikan dengan kekerasan atau perbedaan yang antara senior dan yunior, pendendaman akibat dari pendidikan yang keras, menebang pohon untuk simulasi SAR, atau pembukaan jalur. Meski kecil namun tetap saja kita memberikan pendidikan yang tidak baik terhadap masyarakat sekitar gunung atau hutan.
Apa tujuan anda masuk pencinta alam? Ingin mengenal alam lebih dekat. Namun, ketika pendidikan tidak dikenalkan dengan alam malah disiksa di bentak meski tidak ada kekerasan fisik, membuka jalur hutan dengan parang seperti kesatria.
Ironisnya, bencana-bencana alam tidak separah di jaman itu. Namun saat ini kita mendengar dan merasakan dampak dari penyakit lingkungan seperti pemanasan global, banjir, longsor, tsunami, belum lagi penyakit-penyakit aneh lainnya. Apa sebagai pencinta alam terus merenung naik gunung? Apa sebagai pencinta alam masih saja manjat memenuhi kepuasaan jiwa? Apa sebagai pencinta alam terus menelusuri goa? Apa sebagai pencinta alam terus pergi keriam berarung jeram melintasi sungai? Apa sebagai pencinta alam bangga dengan ucapan sebagai penikmat alam?
Waktunya kita bergabung dan belajar dari organisasi-organisasi non pemerintah, masyarakat dengan kearifan tradisional sekitar hutan yang peduli terhadap lingkungan untuk melakukan sinergi bersama mencari solusi tentang kerusakan alam. Ini tugas semua pencinta alam Indonesia di abad 21 ini. Selain itu, tidak ada salahnya jika organisasi dan individu pecinta alam melakukan kegiatan-kegiatan diluar organisasi, sebagai missal mengadakan suatu perlombaan bagi khalayak umum dengan mengambil tema “alam dan kelestariannya”,melakukan aksi donor darah masal, khitanan masal,dan masih banyak lagi.
So, let’s do it!!!

3 comments:

  1. Mas Agus ini pecinta alam po? Semoga juga tidak merokok ya. Mas Agus juga sudah menontonfilm Gie? Wah bagus banget. Mas Agus sudah mendaki gunung apa saja? Cerita dong di blog ini. Kita tunggu tulisan-tulisan berikutnya. Kalau Gunung Ketur sudah didaki apa belum? he he he

    ReplyDelete
  2. Sayangnya, mahasiswa pecinta alam kita sering kali berperilaku menganiaya alam. Contoh perilaku adalah membuang sampah sembarangan, membuat api unggun sembarangan, membuang puntung rokok juga sembarangan. Coba kalau terjadi kebakaran bagaimana. Mungkin perlu kita galakkan naik gunung sambil membawa kantung plastik sampah. Tidak itu saja, mereka juga buang air besar dan air kecil sembarangan. Bau pesing di mana-mana. Tatang, Magelang

    ReplyDelete
  3. salam kenal untuk mas agus , sang penulis..

    "...dan rekan-rekannya tidak peduli dan menjadi kelompok yang tidak memihak dengan kemelut politik saat itu. Mereka lari ke gunung dan pergi ke tempat-tempat sepi terpencil."

    menurut saya agak terlalu cepat mas menyimpulkannya.. atas dasar apa mas agus menyimpulkan tidak peduli? sudah membaca catatan harian dan buku-buku lainnya Hok-Gie? lari ke gunung? apa mas tau apa sebenarnya tujuan mereka naik gunung?

    salam. Wahyu Adityo Prodjo, anggota Mapala UI


    ReplyDelete
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top