PENANAMAN NILAI-NILAI PANCASILA PADA ANAK-ANAK SECARA DIGITAL PADA SITUASI PANDEMI

Diposkan oleh Label: di

 IMPLEMENTASI MOU RADIO SOSNORA DENGAN UP45

 Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Penanaman nilai-nilai Pancasila sedini mungkin dapat membentuk watak dan karakter dasar anak. Hal ini diharapkan ketika dewasa akan menjadi pribadi yang terbiasa dengan perbuatan dan tingkah laku yang baik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Terlebih dalam situasi pandemi di era teknologi yang serba digital seperti saat ini. Dialog interaktif psikologi dengan mengangkat tema “Penanaman nilai-nilai Pancasila pada anak-anak secara digital pada situasi pandemi”, disiarkan oleh Radio Sonora 97,4 FM Yogyakarta pada hari Selasa 4 Agustus 2020.

H. Sukirno, CH., S.H., M.H., salah satu pembicara menjelaskan bahwa hakikat Pancasila adalah kristalisasi nilai-nila luhur bangsa Indonesia yang oleh fonding father's ditetapkan sebagai Dasar Negara, Pandangan Hidup Bangsa, dan Ideologi Bangsa dan Negara. Pancasila adalah kepribadian, karakter serta Ciri khusus Bangsa Indonesia yang wajib diwujudkan dalam perilaku setiap orang Indonesia. Baik dalam aspek pribadi, keluarga, bangsa, dan Negara. “Setiap orang dengan segala status sosialnya wajib mengajarkan nilai-nilai Pancasila kepada siapapun, terutama kepada anak-anak”, jelas Bapak Kirno yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum UP45.

 

Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, interaksi langsung antar orang sangat dibatasi, maka media gawai, dan sejenisnya menjadi pilihan utama setiap orang untuk melakukan proses pembelajaran, termasuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak. Saat inilah orang tua harus mendampingi dan mengarahkan agar anak-anak menggunakan media-media elektronik itu benar-benar untuk hal-hal yang bermanfaat. Terutama untuk mengenalkan dan terbiasa berlatih mengamalkan nilai-nilai Pancasila. “Menggunakan berbagai media termasuk media elektronik dengan berbagai macam jenisnya agar anak-anak sejak dini mengenal dan secara alami langsung mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari”, tandas Bapak Kirno.

 

Alternatif cara pendampingan dan pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak, antara lain dengan mengajarkan kebudayaan dan agama yang benar sejak usia dini. “Misalnya dengan bernyanyi dan bermain dengan permainan asli Indonesia yang semuanya mengusung nilai-nilai gotong-royong dan rasa kekeluargaan”, ungkap Yudha Andri Riyanto, S.Psi., dari Resource Development Yayasan Tunas Sekar Lintang, DIY.

 

Lebih lanjut diuraikan oleh Andri bahwa mengajarkan dan menanamkan nilai Pancasila secara digital tentu menjadi kewajiban kita sekarang karena Generasi 4.0 tidak terlepas dari dunia digital. Pendampingan bagi anak usia dini yaitu dengan memberikan kesepakatan dalam penggunaan teknologi digital. Hal ini bisa di perluas dengan beberapa metode.  Bijak dalam menggunakan perangkat digital tentu dapat menjadi point tambahan dalam pendidikan. Misalnya Orangtua dalam menyampaikan kepada anak menggunakan bahasa dan dalam waktu yang tepat.

 

Penanaman nilai Pancasila yang dilakukan oleh orang tua antara lain ketika mengajarkan kerohanian, tidak hanya melalui teori semata. Proses pendidikan dapat melalui praktek langsung dengan anak. Anak diajarkan mengucapkan salam saat menerina telepon atau pesan, memutarkan doa sesuai dengan keyakinan melalui alat elektronik. Membiasakan anak untuk tolong-menolong, menjunjung tinggi derajat persamaan tanpa membeda-bedakan hak dan kewajiban anak. Membantu anak lain untuk berbagi dengan cara memberi kabar terlebih dahulu sebelum berkelompok melalui media sosial. Menempatkan kesatuan dan persatuan di atas segala kepentingan pribadinya sendiri. Berperan aktif dalam kelompok, misalnya saat menggunakan aplikasi ponsel. Mengajak anaknya bermusyawarah untuk mencapai mufakat dengan penuh rasa kekeluargaan, memodeling cara penggunaan HP dan lainnya secara nyata. Orangtua menghindari sikap membeda-bedakan anaknya, anak harus diberikan perhatian sesuai dengan usia dan perkembangannya. Jika kakak, adik atau keluarga menggunakan HP dan peralatan digital lainnya dengan waktu yang di batasi harus sama atau ada kesepakatan dan penjelasan.

 

Berikut merupakan rangkuman dari ragam pertanyaan pendengar radio saat acara berlangsung dan jawaban dari penulis dan pembicara lainnya.

 

1)    Bapak Ahmad di Bantul. Bagaimana menerapkan nilai-nilai Pancasila untuk balita? Sebaiknya sejak usia berapa penanaman nilai tersebut dilakukan?

Jawaban: Penerapan dapat berupa sikap Orangtua kepada anak yang mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pada balita misal, mengajarkan untuk mengucapkan salam saat menerina telepon atau pesan, memutarkan doa-doa sesuai dengan keyakinan melalui alat elektronik. Membiasakan anak untuk tolong-menolong dan berbagi makanan, alat permainan dan lainnya.

 

2)    Ibu Afizah di Jogja. Apakah boleh bila anak hanya tahu tentang nilai-nilai Pancasila?

Jawaban: Usia anak-anak merupakan masa tumbuh dan berkembang. Demikian halnya dalam memahami nilai-nilai Pancasila. Anak akan mengetahui, mengenal, memahami hingga akhirnya mampu terbiasa mengaplikasikan dalam kehidupan. Maka penting adanya pendampingan yang baik.

 

3)    Bapak Cahya di Gejayan. Bisakah dalam pembelajaran tanpa aplikasi?

Jawaban: Sebuah pembelajaran akan lebih mudah dipahami dan dihayati bila disertai praktek atau aplikasi secara nyata.

 

4)    Ibu Yani di Bantul. Bagaimana bila kemajuan jaman seperti saat ini berdampak melunturkan nilai-nilai yang sudah ditanamkan?

Jawaban: Ketika nilai-nilai telah ditanamkan dan terpelihara dengan baik dalam kepribadian seseorang maka akan berkembang hingga menjadi karakter yang tidak mudah luntur.

 

5)    Ibu Tiyas di Sleman. Bagaimana mewujudk nilai Pancasila di era digital?

Jawaban: Pada era apapun nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dalam merasa, berpikir dan bertindak. Pada era digital diharapkan kita semua mampu menggunakan teknologi dengan bijak bertujuan untuk kehidupan yang lebih baik dan menjunjung kemanusiaan.   

 

6)    Ibu Bening di Jogja. Bagaimana seharusnya peranan tokoh-tokoh masyarakat dan agama dalam mengaplikasikan Pancasila?

Jawaban: Nilai Pancasila hakekatnya diangkat dari nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi kepribadian bangsa Indonesia. Para tokoh masyarakat dan agama memiliki tanggungjawab besar untuk terus menanamkan, melestarikan dan menjadi teladan dalam mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila.

 

Kesimpulan, usia anak-anak merupakan masa yang paling tepat untuk mendapat pendidikan. Masa bagi roses pertumbuhan dan perkembangan yang luar biasa (golden age). Anak usia dini biasanya cenderung bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa mempedulikan konsekuensi yang akan diterimanya, rasa ingin tahu yang tinggi. Anak dipandang sebagai individu yang baru mengenal dunia. Anak belum mengetahui tata krama, sopan santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia. Pendidikan anak usia dini sangat diperlukan dengan tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai falsafah suatu bangsa. Interaksi anak dengan benda dan orang lain diperlukan agar anak mampu mengembangkan kepribadian, watak, dan akhlak mulia. Penanaman nilai-nilai Pancasila secara digital pada situasi pandemi yakni nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan pada anak usia dini lebih efektif dengan adanya bimbingan dari orang lain, terutama Orangtua.

 

Pendengar yang mengirimkan pertanyaan menarik dan beruntung yaitu pemilik nomor 089…54 dan 087…39, mendapat hadiah dari Two Hundred Sixty Six Coffe and Barber Shop sebagai salah satu sponsor. Terima kasih kepada seluruh Sahabat Sonora 97.4 FM Yogyakarta.

 

Widiantoro, FW (5 Agustus 2020)

Post a comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top