WORKSHOP ANALISIS GAMBAR ANAK

Diposkan oleh Label: di


UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI DOSEN

Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Anak menggambar sesuatu tentu berdasarkan sesuatu yang diketahuinya dengan baik. Semakin banyak yang ia ketahui, semakin gambarnya menunjukkan kecerdasan yang tinggi. Hasil gambar itu, sayangnya, tidak bisa berbentuk suatu angka kecerdasan. Hasil yang ada adalah kecerdasan tinggi, sedang, rendah. Satu hal yang perlu dicermati adalah bahwa gambar anak pra-sekolah adalah cerminan dari tahap perkembangannya, bukan corak kepribadiannya. Hal ini sangat berbeda dengan gambar dari orang dewasa, yang lebih mencerminkan corak kepribadianya. Selain itu, anak usia kurang dari 2 tahun mempunyai kemampuan psikomotorik halus yang terbatas. Anak baru tahu adanya alat-alat gambar seperti pastel / crayon. Pastel itu kemudian diremas-remas, bukan dijadikan alat untuk mewarnai suatu gambar. Hal ini berarti bahwa kegiatan menggambar pada anak sebenarnya bukan menggambar tetapi lebih kepada bermain-main saja.


Berdasarkan analisis gambar, gambar figur manusia yang ada kancing bajunya adalah indikator tentang dependency / ketergantungan. Analisis ini tepat bila ditujukan pada anak usia sekolah / anak-anak SD. Anak-anak usia SD itu sudah mengetahui fungsi kancing baju, dan sudah mampu mengancingkan bajunya sendirinya. Persoalannya mengapa ia mencantumkan kancing baju pada gambarnya? Itu menunjukkan ketergantungan. Bila gambar kancing baju dan analisis ketergantungan itu ditujukan pada anak-anak usia 4 tahun, maka hal itu dianggap tidak tepat. Hal ini karena anak usia 4 tahun memang masih sangat tergantung pada ibunya.

Persoalan yang berhubungan dengan analisis gambar anak adalah tentang reliabilitasnya. Gambar yang sama mungkin saja dianalisis berbeda oleh ahli berbeda. Tentu saja situasi seperti ini menimbulkan ketidakpercayaan klien pada psikolog. Untuk mengatasi hal ini maka psikolog perlu mengasah intuisi dalam menganalisis gambar. Intuisi itu dapat dilatih dengan cara sering melihat hasil gambar. Istilahnya adalah practice make perfect. Berdasarkan seringnya psikolog melihat gambar anak-anak sekoah (gambar normal) maka ia akan segera melihat kejanggalan pada gamabr anak-anak yang mengalami masalah gangguan emosi. Jadi ketepatan menganalisis gambar proyektif sangat bergantung pada jam terbang, bukan berdasarkan senioritas. Dosen yang sangat senior belum tentu ahli dalam menganalisis gambar.

Mengapa kita perlu memahami gambar anak? Metode gambar anak adalah cara untuk mengetahui apa yang terjadi dengan anak. Selain itu, semua anak senang menggambar. Setelah selesai menggambar, anak kemudian diminta untuk bercerita / menjelaskan tentang gambar itu. Ketika gambar anak konsisten, maka hal itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang ingin diceritakan. Misalnya, anak selalu menggambar tentang figur ayah, berarti ia ingin menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan ayah.

Metode wawancara dan observasi penting untuk mengiringi metode gambar, karena hasil gambar anak tidak selalu mencerminkan permasalahan anak. Sebagai contoh, anak yang selalu menggambar ayah, bisa dintrepretasikan bahwa anak merindukan ayah atau anak membenci ayah. Pada kasus lain, ibu melaporkan bahwa anak menderita autis, terus anak diminta untuk menggambar. Ketika diobservasi berulang-ulang dan hasilnya relevan, maka diagnose autis bisa ditegakkan.

Untuk kasus homosexuality, harus sangat hati-hati dalam menegakkan diagnosisnya. Kasus homoseksual biasanya terjadi ketika anak menggambar figur tidak sesuai dengan peran gendernya (anak perempuan menggambar laki-laki, atau anak laki-laki menggambar perempuan). Remaja yang menggambar figur yang berlainan dengan peran gendernya mungkin saja itu cerminan dari idolanya, bukan ada gejala homoseksual. Untuk mengecek homosexsuality, maka testee diminta menggambar laki-laki dan perempuan. Hal ini untuk melihat konsistensinya. Pada anak-anak pra-sekolah, gambar yang berlainan dengan peran gendernya tidak mencerminkan homoseks, namun menggambarkan status perkembangannya yang belum tuntas. Anak-anak sering menggambar yang aneh-anaeh karena hal itu mencerminkan kreativitasnya. Kreativitas berasal dari pengaruh lingkungan, bukan dari genetika (keturunan).

Menurut Joseph Di Leo, sangat penting untuk melihat berapa umur anak dan level perkembangan psikologisnya sebelum menginterpretasi hasil gambar anak. Berikut tabel yang menjelaskan tentang perkembangan anak dan hasil gambarnya.

Usia
Gambar
Tahapan
0-1 tahun
Respon reflek, memasukkan krayon ke mulut
Sensori motor
1-2 tahun
Scribbling, kinesthetic drawing
Goal directed
2-4 tahun
Didominasi lingkaran dan graphic symbol
Cara berpikir simbolik, egosentris
4-7 tahun
Intellectual realism, draw what is known to be there, transparan, subjective.
Preoperasional, intuitif, non-logis
7-12 tahun
Visual realism, draw what is actually visible, realis proporsional
Operasional konkrit, logis
12+ tahun
Minat menggambar berkurang
Mulai ide mengembangkan gambar

Apa yang sedang ingin diceritakan anak? Menginterpretasi hasil gambar anak berarti berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada diri anak. Analisis gambar anak ini sangat subjektif, karena tidak ada dua anak yang serupa hasil gambarnya. Interpretasi gambar anak tidak seteknis seperti ketika menerjemahkan kognisi, sehingga proses interpretasi sangat mengandalkan intuisi. Interpretasi ini dapat dilakukan hanya dengan pendekatan holistic berdasarkan kesan secara keseluruhan. Hasil interpretasi yang berdasarkan intuisi ini sangat sulit mengandalkan reliabilitas dan validitas pengukuran. Intuisi ini diperoleh dari pengalaman melihat gambar. Dalam interpretasi ini juga perlu diperhatikan kesenangan anak dalam berbicara. Anak nyang senang berbicara / mengobrol, biasanya menggambar sambil bercerita. Cerita ini kemudian dijadikan catatan yang bisa menguatkan interpetasi. Anak-anak pra-sekolah, narasi cerita tentang gambarnya masih belum sekonsisten anak sekolah. Bayi dan anak pra-sekolah sering memiliki kesulitan dalam menggambar karena kemampuan motorik halusnya belum berkembang dengan optimal. Anak usia sekolah memiliki kemampuan motorik halus dan biasanya lebih nyaman dalam menulis dan menggambar.

Gangguan emosi pada anak dan hasil gambarnya. Anak yang bermasalah biasanya mempunyai gambar yang berbeda dengan gambar anak-anak lain yang normal. Ada 3 kelompok manusia yang akan memproduksi gambar secara genuine atau asli. Mereka adalah:
  1. Anak-anak normal menggambar innocent eyes. Kepala dan mata adalah bagian tubuh yang paling primitif. Kepala dan mata merupakan simbol interaksi individu dengan lingkungan sekitar. Mata yang digambar besar mencerminkan individu yang pencuriga. Pada anak-anak, mata besar menunjukkan rasa ingin tahu yang besar.
  2. Orang yang menderita gangguan mental. Hasil gambarnya menunjukkan ketidakmampuannya berasimilasi dengan budaya lingkungannya.
  3. Orang yang menderita gangguan jiwa. Hasil gambarnya mencerminkan penolakan pada realitas.

Kadang kala, testee menggambr stick person. Hal ini tidak diharapkan. Untuk mengatasinya maka testee diminta menggambar ulang. Stick person ini mencerminkan adanya blocking / mekanisme pertahanan diri, atau bisa saja ia tidak bisa menggambar.

Penggunaan gambar sebagai diagnosis gangguan emosi. Hal ini dikemukakan oleh:
  1. Elizabeth Munsterbeg Koppitz, yang membuat instrumen untuk melihat tanda-tanda yang muncul pada anak dengan masalah emosional yang terlihat pada gambar figur manusia (Humans Figure Drawing / HFD).
  2. Koppitz (1966, 1968) mengembangkan metode penilaian objektif untuk digunakan sebagai teknik proyektif pada HFD anak usia 5-12 tahun.
  3. Penelitian yang dilakukan Koppitz menunjukkan bahwa HFD yang digambar oleh pasien klinis akan lebih banyk menunjukkan indikator emosonal daripada orang yang beradaptasi dengan baik.

Menurut Koppitz, dua atau lebih kemunculan indikator emotional pada HFD menunjukkan adanya permasalahan emosional dan ketidakpuasan akan hubungan interpersonal. Awalnya, indikator Koppitz ada 80, lalu diuji lagi sehingga disimpulkan ada 30 indikator saja. Berikut adalah sebagian indikator tersebut:
Ø  Figur sangat kecil E insecurity, ketakutan, raa malu, insecurity ekstreem, penarikan diri, inadekuat, ego menyurut, depresi.
Ø  Hilangnya mulut E pemalu, penarikan diri yang ekstrem, penakut, tidak mampu / menolak berkomunikasi, depresi.
Ø  Hilangnya hidung E pemalu, penarikan diri, kecemasan, masturbasi, ketakutan, castration, penakut, pasif.
Ø  Tangan terpotong E pemalu, inadekuat, helplessness, rasa bersalah karena gagal bertindak dengan tepat (pada agresi), rasa bersalah.
Ø  Lengan / tungkai yang asimetris E koordinasi lemah, impulsif, possible neurological impairment, ketidakseimbangan, tidak terkoordinasi, kecanggungan fisik.
Ø  Gigi E sikap tidak bersahabat (jika muncul indikator emosional lain).
Ø  Lengan yang panjang E secara agresif ingin berkontak dengan lingkungan, ambisi untuk pencapaian.
Ø  Tangan besar E tindakan agresif.


DRAW A PERSON (DAP)

Ketika diminta menggambar orang, maka asumsinya anak menggambar dirinya. Ketika anak menggambar orang, hal tersebut bisa merupakan proyeksi dari 3 hal yaitu gambar fisik dirinya, gambaran psikologisnya (wishes, defens), atau simptom. Proyeksi tersebut merupakan penggambaran diirnya saat itu, bukan kemarin atau yang akan datang sehingga perlu longitudinal intake jika ingin menangkap karakter yang persisten. Anak-anak pras-sekolah akan lebih mudah bisa diminta menggambar dirinya, ibunya, ayahnya atau kelaurganya. Anak usia sekolah, sebliknya, akan lebih sulit bila diminta menggambar hal yang personal.


DAP UNTUK USIA PRA-SEKOLAH

DAP tersebut sulit untuk diukur. Gambarnya masih sangat sederhana. Anak masih sulit untuk memahami instrusi yang diberikan. Hal ini bisa dimulai dengan meminta mereka emnggambar ayah, ibu atau kakak lalu meminta mereka menggambar dirinya.

Apa instruksinya? “Gambarlah orang”.
Apa saja peralatannya?
Ø  Medium soft pencil (HB)
Ø  Jika tes klasikal, pastikan jarak antar anak jauh untuk meminimalisir copying
Ø  Jika anak bertanya lebih lanjut untuk mendapatkan instruksi yang lebih spesifik, cukup diulang kembali instrusi sederhana tadi. Jika tetap bertanya berilah penjelasan bahwa ia boleh menggambar orang sesuai keinginannya.
Ø  Jika anakmenggambar hanya kepala (portrait), minta ulang gambar dan jelaskan untuk menggambar keseluruhan.
Ø  Jika anak masih tidak menegerti maksud “orang: yang dimaksud bisa dibuat lebih spesifik “Gambarlah orang. Kamu bisa menggambar orang sesuai dengan keinginanmu, lelaki atau perempuan, anak lelaki atau anak perempuan”.

PERTANYAAN SETELAH MENGGAMBAR

Ø  Apakah orang ini senang? Atau tidak senang?
Ø  Senang berteman atau lebih senang sendiri?
Ø  Ramah atau tidak ramah?
Ø  Apakah orang ini kuat atau lemah?
Ø  Apa yang sedang dia kerjakan?
Ø  Apa yang disukainya Yang tidak disukainya?
Ø  Tidak ada pertanyaan baku setelah intake hanya saja pastikan bahwa pertanyaan tersebut menggali perasaan dan perilaku.
Ø  Ceritakan tentang gambar ini. Pertanyaan ini akan membuat anak mengkonsep cerita-cerita yang hanya akan ia ceritakan kepada tester.
Ø  Lebih baik pertanyaan langsung kepada gambar yang sedang ia gambar,s ecara spesifik.


EKSEKUSI GRAFIS: Garis, ukuran dan penempatan

GARIS
Ø  Tekanan: stong – soft – reinforced (berulang-ulang) E menunjukkan kemampuan mengontrol stabilitas energi dan adanya perasaan yakin.
Ø  Tipe: lurus – melengkung E menunjukkan kemampuan ebrpikir yang konstruktif dan rasional, adanya fleksibiltas emosi dan sosial.

UKURAN
Ø  Ukuran kertas mencerminkan apa yang diberikan oleh lingkungan. Bagaimana subjek menggunakan kertas menunjukkan siapa dirinya.
Ø  Gambar besar (memenuhi kertas) E ekspansif, agresi, kompensasi ketidakmampuan.
Ø  Gabar kecil (banyak ruang yang kosong) E inferior, insecure.

PENEMPATAN
Ø  Di tengah E normal
Ø  Di atas E aspirasi tinggi, optimism
Ø  Di bawah E insecure, inadekuat
Ø  Di pinggir kertas E need for support, dependent
Ø  Di kiri E menutup diri
Ø  Di kanan E terbuka secara sosial

KONTEN GRAFIS: Kepala, mata, ekspresi emosi pada gambar anak, ukuran, gerakan, tangan, see-saw effect (kognitif-afektif ratio).

KEPALA
Ø  Kepala merupakan atribut simbolis yang merepresentasikan ekspresi emosi
Ø  Anak bisa menggambar kepala secara proporsional pada usia di atas 6-7 tahun.
Ø  Di bawah 5 tahun anak basanya menggambar kepala dengan ukuran besar, selain karena perkembangan kognitif yang belum amtang, juga karena di usia tersebut aktivitas di sekitar kepala sangat dominan dalam pengalaman emosi mereka yaitu melihat, berbicara, mendengar, makan, tertawa dan meringis.
Ø  Bila gambar terlalu besar mungin ada konflik kognisi.

MATA
Ø  Mata adalah media utama kontak dengan dunia luar.
Ø  Dalam usaha awal anak untuk menggambar sosok manusia, mata adalah ciri pertama dan paling menonjol yang harus ditambahkan ke lingkaran primordial kepala
Ø  Anak baisanya menggambar mata dengan ukuran yang besar karena memang ketertarikan dan rasa ingin tahu yang tinggi akan dunia luar.

EKSPRESI EMOSI
Ø  Anak di bawha usia 10 tahun biasanya hanya bisa membedakan happy-unhappy, hostility-fear.

UKURAN
Ø  Usia pra-sekolah ke bawah E mempersepsikan ukuran besar an kecil sebagaimana adanya (belum terlalu paham konteks).
Ø  Di atas pra-sekolah E anak emnggambar ukuran besar dan kecil untuk mengindikasikan penting-tidaknya objek tersebut.

GERAKAN
Ø  Anak pra-sekolah bisanya banyak mengambar full-face.
Ø  Anak-anak usia sekolah, tidak lagi puas dnegan tokoh statis mereka yang full-face. Mereka berusaha menggambarkan gerakan mereka, berharap bisa menciptakan ilusi pergerakan tanpa gerak.
Ø  Biasanya mencerminkan kemampuan intelektual yang tinggi, karena sangat sulit untuk menggambar figure yang bergerak dalam suatu gambar.

TANGAN
Ø  Tangan adalah media utama untuk kontak langsung, direct contact, action, dan communication.
Ø  Di bawah 4 tahun gambarnya tidak dapat diintrepretasikan.
Ø  Figure yang tidak ada tangannya menunjukkan individu tidak ingin melakukan sesuatu.

SEE-SAW EFFECT: KOGNITIF-AFEKTIF RATION
Ø  HAsil gambar menunjukkan cerita tentang interaksi sosial anak.
Ø  Gambar yang komplit (ayah, ibu, kakak, saya, anjing) menunjukkan aspek kognitif lebih dominan daripada emosi.

PERSONAL-SPACE & TRUST - SELFESTEEM
Ø  Personal space: protective device (perlindungan diri).
Ø  Mulai usia 5 tahun anak sadar akan personal space dengan teman seusianya.
Ø  Self-esteem dan trust dapat dilihat dari ukuran gambar orang dan personal spacenya.


DRAW A FAMILY
Ø  Pertama kali diciptakan oleh Hulse tahun 1951 dan diteliti validasinya oleh Deren (1975).
Ø  DAF ini menggunakan pendekatan Gestalt, yaitu melihat konsep keseluurhan gambar, bukan perbagian gambar.
Ø  Digunakan untuk melihat bagaimana konflik antar anggota keluarga dan apakah hubungan antar anggota keluarga cukup sehat.

INSTRUKSI DAF
Ø  “Gambarlah keluargamu, termasuk kamu. Pastikan mereka sedang melakukan sesuatu”.
Ø  Minta anak untuk mengidentifikasikan nama setiap orang yang digambar.

PERTANYAAN SETELAH MENGGAMBAR:
Ø  Apa yang sedang dilakukan masing-masing anggota keluarga?
Ø  Apakah ayah / ibu / kamu  / anggota eklaurga lainnya sedang senang / tidaks enang?
Ø  Apa yang membuat mereka senang?
Ø  Apakah ayah senang bersama ibu? Apakah ibu senang bersama ayah?
Ø  Apakah saudaramu senang bersamamu? Apakah kamu senang bersama mereka?
Ø  Apakah ayah / ibumu menyayangimu? Siapa yang lebih disayang? Apa yang membuat lebih disayang?
Ø  Siapa yang senang menghukum? Siapa yang lebihs ering marah?
Ø  Pertanyaan bisa lebih ebrkembang, ebrgantung pada intusi peneliti.

MENGHILANGKAN DAN MENOLAK:
Ø  Figur yang dihilangkan biasanya menggambarkan masalah yang ada.
Ø  Tidak semua anak menghilangkan figur yang dibencinya dalam gambarnya.
Ø  Anak baisanya jarang menolak enggambar keluarga.


KINETICS HOUSE TREE PERSON DRAWING (Robert Burns).

MENGAPA RUMAH, POHON DAN ORANG?
Ø  Dalam hampir semua agama, mitos, ritual, legenda,s eni, POHON merupakan sebuah metaphor yang paling umum untuk menggambarkan HUMAN DEVELOPMENT. Gambar pohon merupakan gambar proses transformasi perkembangan diri dari si penggamabr, energi ayng memungkinkan seseorang ebrkembang (growth) E developemntal self.
Ø  Ketika menggabar orang, si penggmbar memproyeksikan fungsi egonya (the self). Sifatnya here and now E actual self.
Ø  Sementara rumah memproyeksikan aspek fisik / lingkungan / tempat dari cerita metaphor yang dibuat. Penuh dengan muatan emosi E environment. A house is a home.

HTP DAN KHTP
Ø  HTP diciptakan oleh Buck, dan dikembangkan oleh Hammer (1948 dan 1969).
Ø  HTP untuk pasien “abnormal” dengans egala labelingnya (skizofrenia, organic, dan lain-lain).
Ø  HTP menginstruksikan orang menggambar Rumah, Pohon dan Orang pada kertas yang berbeda (3 kertas!). E tidak bisa digal interaksi antar ketiganya.

INSTRUKSI KHTP:
Ø  “Gambarlah sebuah rumah, pohon dan orang lengkap sedang melakukan sesuatu. Gambar orang dengan lengkap, bukan gambar kartun ataus tick person”.
Ø  Dikerjakan pada kertas HVS ukuran A4 yang diberikan secara horizontal
Ø  Tidak ada pembatasan waktu, tapi diingatkan untuk segera menyelesaikan setelah 30 menit berlalu.

INTREPRETASI FREUDIAN vs MASLOW THEORY
Bucks menganalisis HTP dengan gaya proyeksi Freudian yang berbicara tentang mekanisme defens dan impuls primitive,s edangkan KHTP lebih melihat dinamika berdasarkan teori perkembangan motivasi dari Maslow yaitu:

Ø  Level 1: Belonging to life E keinginan untuk hidup, kelangsungan hidup, keselamatan, keberakaran (rootedness).
Ø  Level 2: Belonging to life E penerimaan tubuh, mencari kontrol terhadap kecanduan dan potensi tubuh.
Ø  Level 3: Belonging to society E Pencarian untuk status, kesuksesan, rasa hormat dan kekuasaan.
Ø  Level 4: Beloning to self and not-self E Diri sekarang didefinisikan dengan menyertakan ‘bukan diri’ seperti wanita hamil menerima anaknya, belas kasih, emngasuh, memberi cinta, motivasi.
Ø  Level 5: Belonging to self and expanded not self E Memberi dan menerima cinta, aktualisasi diri, rasa akan nasib baik dan keberuntungan, kreativitas, peryaaan hidup.

LEVEL PERKEMBANGAN DALAM GAMBAR RUMAH
Ø  Level 1: Belonging to life E pada tingkat ini penggmbar disibukkan dengan pertanyaan untuk bertahan hidup di bumi ini atau keinginan untuk mati.

Approacher: Rumah adalah tempat untuk sebuah keamanan dan ekselamatan. Digambarkan dengan struktur benteng atau penjara, aksesnya terbatas. Pintu atau kenop pintu hilang. Rumah membuat rasa aman dari orang-orang, sebuah tempat perlindungan.
Avoiders: Individu mempertimbangkan untuk meninggalkan bumi ini. Rumah tersebut rapuh, emmbusuk, tua dan lemah. Rumah itu hampa dan tampak tidak kekal.

Ø  Level 2: Belonging to body
Approacher: BAgian-bagian rumah ditekankan secara rinci ada cerobong asap, pintu, jendel. Rumah tersebut mungkin diberi simbol-simbol seksual. Rumah tersebut sensual dan mungkin terkesan hedonism.
Avoiders: Bagian-bagian dihilangkan, dihapus atau disembunyikan. Bagian dapat diarsir atau dihindari. Ada keengganan untuk menggambar rumah.

Ø  Level 3: Belonging to society – simbol kesuksesan.
Approacher: Rumah mencerminkan sebuah kebutuhan untuk sukses, status, kekuasaan dan rasa hormat. Pada tingkat ini rumahnya stylish dan terlihat mahal, misalnya bertingkat.
Avoiders: Rumah tersebut anti sukses. Rumah tidak terlihat mahal atau stylish. Sebuah rumah yang tiak seperti pada umumnya rumah di lingkungan sekitar. Misalnya berdinding gedek, atau ada sedikit dinding yang roboh.

Ø  Level 4: Belonging to self and not-self
Pada level ini, rumah menjadi “rumah”. Tirainya bukan untuk bersembunyi, tapi untuk menghangatkan dan memperindah. Biasanya ada tambahan bunga dan semak-semak. Pintu masuk tersedia dengan adanya pintu dan kenop pintu. Terkadang cahaya bersinar dari rumah. Ada cerobong asap yang ada asapnya sedang keluar. Kesannya hangat.

Ø  Level 5: Belonging to self and expanded not-self
Harmonisasi segala bagian rumah, kualitas level 4 ditambah sentuhan kreativitas yang memberi kesan menyenangkan. Misalnya ada matahari bersinar cerah, ada pohon-pohonnya yang rindang, ada bunga-bunga, ada orang yang sedang berjalan-jalan di taman, rumah tingkat, ada terasnya, di teras ada bunga-bunga.

LEVEL PERKEMBANGAN DALAM GAMBAR POHON

Ø  Level 1: Belonging to life E penerimaan terhadap kekuatan hidup dan energi.
Approacher: Pohon memiliki kualitas akar berbentuk cakar atau digali ke dalam. Pohon tidak ramah E mungkin emmiliki duri atau kualitas ingin menjauhi.
Avoiders: Pohon mungkin mati atau sekarat. Batangnya sempit dan tidak ada atau jarang ada dedaunan. Cabang dan deaduanan menggantung, rudak atau mati.

Ø  Level 2: Belonging to body
Approacher: Pohon mungkin memiliki kualitas sensual, mungkin sebuah penekanan pada tekstur kulit ataud edaunan. Daun atau tungkai bisa berbentuk phalic. Pohon bisa menyerupai phallus karena struktur cabang sebanding dengan batang.
Avoiders: Pohon mungkin emmiliki bagian yang diarsir secara ebrlebihan, pohon denan buah yang jatuh, pohon yang tampaknya kaku.

Ø  Level 3: Belonging to society
Approacher: pohon yang kuat. Cabang yang besar, berhias, penuh gaya (stylish), menjangkau keluar untuk meraih dan memiliki. Pohonnya tidak seimbang.
Avoiders: Pohon besar yang muncul secara pasif. Cabang besar tapi tidak menjangkau keluar. Pohon mungkin miring.

Ø  Level 4: Belonging to self and not-self.
Pohon yang rindang, sehat dan terlihat kesan bisa menjadi tempat berlindung.

Ø  Level 5: Belonging to self and expanded not-self.
Pohon utuh, bergerak ke atas dan ke luar. Cabang-cabangnya berkelanjutan, tidak rusak / terputus. Mungkin ada burung, matahari yang utuh secara bersamaan.

LEVEL PERKEMBANGAN DALAM GAMBAR ORANG

Ø  Level 1: Belonging to life
Approacher: Penampilan dan ekspresi agresif. Mungkin memiliki fitur paranoid. Figur bisa bersenjata.
Avoider: Wajah mungkin hampa atau wajah kehilangan atau sangat sedih. Orang tampak mati di dalam.

Ø  Level 2: Belonging to body.
Approacher: Tubuh ditekankan dan sensual. Karakteristik sesual sering ditekankan. Mungkin berkesan menggoda. Otot ditekankan pada pria. Fitur seksual ditekankan pada wanita, termasuk payudara, pinggul, dan sebagainya. tubuh yang indah. Orang-orang berolah raga, jogging, dan sebagainya.
Avoiders: Tubuh disembunyikan atau bagian dihilangkan atau ditutupi. Malu atau ejngah tentang tubuh.

Ø  Level 3: Belonging to society
Approacher: Stylish, kesan sukses dan penting. Menunjukkan status dan kebutuhan untuk rasa hormat. Kesesuaian dengan simbol kekuasaan dalam masyarakat. Mungkin pakai gelang, kalung.
Avoiders: Pakaian kuno, tidak sukses, anti main stream.

Ø  Level 4: Belonging to self and not-self
Gambar lengkap dan menunjukkan ekspresi wajah penuh perhatian, penuh kasih sayang. Emnunjukkan perilaku kepedulian dan pengasuhan. Gambar mungkin pakai anak, gendong anak.

Ø  Level 5: Belonging to self and expanded non-self.
Figur gambar utuh, lengkap memberi dan emnerima cinta dan keakraban dengan roang lain (dua arah).

URUTAN MENGGAMBAR
Ø  Pohondigambar lebih dulu: Energi dan growth merupakan hal yang paling penting (tipikal individu yang trying to grow / atay alive).
Ø  Rumah digamabr lebih dahulu: mementingkan keluarga, lingkungan tempat berlindung.
Ø  Orang digambar lebih dahulu: Keingingan untuk mengontrol pasangan

ATTACHMENT
Ø  Kadangkala Rumah menyatu dengan Pohon, Orang menyatu dengan Pohon, Orang menyatu dengan Rumah.
Ø  Gambar psikologis yang sehat ketika Rumah, Pohon, Orang berdiri sendiri, tidak menyatu.
Ø  Indikasi unfulfilled / dissatisfied dengan bagian dari hidupnya.

ACTION
Ø  Rumah tidak dapat bergerak, sehingga hanya bisa dilihat bagaimana bentuknya saja.
Ø  Pohon dan Orang sifatnya hidup, sehingga bisa dilihat ‘action’nya.

GERAKAN POHON
Ø  Pohon yang merengkuh rumah: Energi yang dihabiskan di dalam rumah, fiksasi masa lalu, ingin kehangatan dan rasa aman rumah.
Ø  Pohon yang merengkuh orang (orang berteduh di bawah pohon): Memberikan energi pada orang.
Ø  Pohon yang dauunya menagarah / emnjauhi rumah: Putting energy to their own growth.

GERAKAN ORANG
Ø  Aktivitas yang dilakukan orang menggamabrkan proyeksi dari arti aktivitas itu sendiri, misalnya:
Ø  Orang duduk di atas pohon (keinginan untuk menik diri dari rumah / ekluarga dan memikirkan perkembangan diri).
Ø  Orang duduk di dalam rumah (keiningan untuk merasa aman dari ancaman di luar).

SIMBOL
Ø  Simbol memiliki banyak makna tergantung pada konteks cerita pada gambar.
Ø  Cara paling valid menemukan arti dari sebuah simbol adalah emminta klien untuk bercerita.
Ø  Tidka dianjurkan untuk emngartikan simbol melalui ‘kamus simbol’ karena maknanya bisa ajdi ebrbeda atau tidak sesuai konteks.
Ø  Contoh simbol yaitu ‘ular’.

GAMBAR ANAK UNTUK REKONSTRUKSI
Ø  Anak dapat mengingat kembali dua kali lipat lebih banyak melalui gambar.
Ø  Yang tergali banyak tentang: Kejadian unik, interesting dsan emosional, bukan peristiwa yang rutin.
Ø  Up to year after event
Ø  Recall efektif untuk emngingat objel / items, sulit untuk emngingat perilaku dan ucapan.

KESIMPULAN:
  1. Gangguan emosi bisa tergambar pada gambar anak.
  2. Perhatikan usia anak ketika menginterpretasikan GAMBAR ANAK.
  3. Inkonsistensi masa kanak-kanak
  4. Anak yang terganggu emosinya tidak selalu menggambar sesuatu yang menunjukkan gangguan emosinya.
  5. Pertimbangkan pengaruh luar diri anak
  6. Hindari memperhatikan detail dan terburu-buru mengintrepretasikan gambar
  7. Gambar yang menonjol memiliki makna yang penting dan mendalam
  8. Narasi menjadi penting karena gambar merupakan media anak untuk bercerita
  9. Gambar anak hanya menguatkan diagnosis yang muncul dari perilakunya.

Workshop analisis gambar anak-anak ini merupakan usaha-usaha dosen Psikologi UP45 untuk meningkatkan kompetensinya. Workshop ini dilaksanakan di New Metro Hotel Semarang, pada 25 November 2017, oleh Fadillah M.Psi. Beliau adalah Director PT. Care Indonesia Solusi, Dosen Psikologi Design Prodi Desain Komunikasi Visual ITB. Alamat yang bisa dihubungi adalah Fadillah.Binakarir@gmail.com. Adapun nomor beliau adalah 081287328901.




Post a Comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top