KETERAMPILAN MEMBUAT FILM PADA ANAK-ANAK DI MASA PANDEMI: LITERASI DI DUNIA MAYA

Diposkan oleh Label: di

 

IMPLEMENTASI MOU RADIO SONORA DAN UP45

 

Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., MA

Fakultas Psikologi Univervsitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Keterampilan membuat film pada anak-anak di masa pandemi menjadi alternatif kegiatan yang dapat dikembangkan. Selaras dengan perkembangan teknologi saat ini yang semakin pesat maka perlu adanya literasi dunia maya bagi anak-anak. Tema yang sangat menarik ini diulas dalam dialog kerjasama antara UP45 dengan Radio Sonora 97.4 FM Yogyakarta (29/9).

 

Kebijakan pemerintah di masa pandemi salah satunya yaitu menerapkan kegiatan belajar - mengajar dari rumah. Siswa pada umumnya mendapat tugas dari guru yang disertai bukti berupa foto serta video. Ada pula tugas berupa membuat film dokumenter dan sejenisnya. Para orang tua saat ini dituntut memahami perkembangan dasar dalam dunia maya agar mampu mendampingi anak-anak dengan lebih baik.

 

Perkembangan dunia maya tidak bisa dibatasi dan semakin mudah diakses oleh anak-anak.  “Orang tua diharapkan mampu dengan bijak mendampingi anak-anaknya dalam menggunakan media sosial. Misal membiasakan agar anak berdiskusi dulu dengan orang tua saat anak ingin mengunggah foto atau video ke media sosial”, jelas Sapta Kurniawati, S.Psi., M.Psi., salah satu narasumber, praktisi Pendidikan dan Konselor UP45.

 


Pembuatan film sederhana berupa video berdurasi pendek mampu meningkatkan kemampuan bagi anak dalam berpikir secara aktif, kreatif, kritis dan positif dengan memakai bahan digital. Kreativitas pada anak berkembang dalam menyusun cerita menjadi sebuah skenario film. Karya anak berupa film dapat dipublikasikan dengan diunggah di Youtube. Selain menjadi bentuk penghargaan bagi karya anak, agar anak memiliki jejak digital yang positif di kemudian hari. Hal ini penting bila suatu saat anak ingin mendapat beasiswa serta ketika melamar pekerjaan di masa depan yang berbasis digital.

 

Pendampingan dari guru dan orang tua sangat dibutuhkan. “Orang tua memberi pemahaman etika pada anak  dalam menggunakan media digital. Anak perlu dibimbing agar mampu menggunakan perangkat berupa aplikasi internet dengan bijak”, jelas Yudha Andri Riyanto, S.Psi., narasumber dari Resource Development Yayasan Tunas Sekar Lintang, DIY.

 

Berikut merupakan rangkuman dari ragam pertanyaan pendengar radio saat acara berlangsung dan jawaban dari penulis dan pembicara lainnya.

 

1)    Bapak Toro, di Jogja. Bagaimana menurut pandangan psikologi ketika anak sering menonton bahkan sering menirukan gaya peran antagonis dalam film di televisi?

Jawaban: Usia anak-anak merupakan saat tumbuh kembang yang sangat pesat dari berbagai aspek dalam dirinya. Anak cenderung belajar dan menirukan dari apa yang mereka lihat. Perlu adanya pendampingan dari orang tua ketika anak menonton tayangan film untuk memberikan penjelasan yang bijak pada anak serta mengenal beragam karakter yang ada.

 

2)    Mba Manik, di Jogja. Saat ini anak-anak sangat tertarik menggunakan aplikasi Tik tok dibandingkan belajar materi dari sekolah. Bagaimanakah pengaruh Tik tok pada kesehatan mental anak? Apakah tidak mengarahkan anak pada sikap yang narsistik?

Jawaban: Hendaknya Orang tua memberikan kebebasan bagi anak untuk mengeksplorasi segala bakat dan kemampuannya. Adanya aplikasi yang semakin canggih dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kreativitas dan menumbuhkan rasa percaya diri. Tentu tetap dalam pendampingan Orangtua untuk terus memberikan pemahaman norma serta etika dalam menggunakan media sosial. 

 

3) Bapak Ananto, di Jogja. Kami merasa beruntung dengan perkembangan dunia on line seperti saat ini. Anak kami yang dulunya bercita-cita ingin menjadi dokter, saat ini berganti ingin menjadi Youtuber. Apakah sebagai Youtuber dapat menjamin masa depan anak?

Jawaban: Sebuah cita-cita bagi anak merupakan semangat untuk mengembangkan diri seturut yang mereka inginkan dan pahami. Peran Orang tua diharapkan mampu memberi wawasan serta berbagai alternatif gambaran tentang masa depan bagi anak. Lebih mengutamakan penanaman nilai-nilai positif yang hendaknya dikembangkan dalam diri anak atas semua profesi yang mungkin akan ditekuni oleh anak di masa depannya.

 

4) Bunda Aisah, di Jetis. Usia berapa yang baik dalam mengenalkan HP dan film pada anak?

Jawaban: Pengenalan perangkat teknologi dan film tidak ditentukan dengan batasan usia. Orang tua hendaknya selalu memberikan pendampingan agar anak mampu memilah hal yang mendukung perkembangan dirinya dan hal yang mungkin beresiko atas keselamatan fisik dan mentalnya.

 

5) Ibu Susan, di Jogja. Bagaimana mengenalkan dan cara memilih film yang baik pada anak, karena saat ini banyak tayangan film kartun yang kurang edukatif?

Jawaban: Pemilihan film disesuaikan dengan tingkat tumbuh kembang serta pemahaman anak. Nilai edukatif lebih ditentukan oleh pendampingan yang diberikan Orang tua pada anak.

 

6) Ibu Yani, di Bantul. Bagaimana menumbuhkan kreatifitas pada anak dalam membuat film?

Jawaban: Orang tua dan pendamping dapat membantu merencanakan pembuatan film dengan memberikan kebebasan anak untuk mengembangkan kreatifitas serta imanjinasinya. Fokus pendampingan lebih pada proses bagi anak untu belajar secara nyata tentang memecahkan masalah, penjadwalan, analisis, penelitian, perencanaan, imajinasi dan keterampilan komunikasi secara nyata..

 

Di akhir acara diberikan hadiah oleh Two Hundred Sixty Six Coffe and Barber Shop sebagai salah satu sponsor, berupa pulsa cellular bagi 2 orang pendengar yang telah mengirimkan pertanyaan yang menarik yaitu pemilik nomor 085…70 dan 085…17. Terima kasih kepada seluruh Sahabat Sonora 97.4 FM Yogyakarta.

 

Widiantoro, FW (29 September 2020)

Post a comment
Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Back to Top